JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menyatakan keyakinannya bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia akan tetap terjaga di bawah batas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam wawancara dengan Bloomberg News yang dipublikasikan pada Minggu (15/3/2026).
Dalam wawancara tersebut, Prabowo menegaskan bahwa pemerintah tetap berkomitmen menjalankan kebijakan fiskal secara disiplin meskipun situasi global saat ini diwarnai ketidakpastian ekonomi, ketegangan geopolitik, serta fluktuasi harga energi dunia.
Menurutnya, pemerintah tidak memiliki rencana untuk melonggarkan batas defisit 3 persen yang telah diatur dalam undang-undang, kecuali jika Indonesia menghadapi situasi krisis besar.
“Kecuali jika terjadi keadaan darurat yang sangat besar seperti Covid,” ujar Prabowo.
Meski optimistis terhadap stabilitas fiskal, Prabowo mengakui pemerintah tetap mewaspadai dampak lonjakan harga minyak dunia yang dipicu ketegangan di kawasan Timur Tengah, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Ia menilai tantangan akan semakin besar apabila harga minyak dunia bertahan di atas 120 dolar AS per barel dalam jangka waktu yang lama.
Meski demikian, pemerintah berupaya menghindari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Namun, Prabowo mengakui kebijakan tersebut akan sulit dipertahankan jika lonjakan harga minyak global berlangsung berkepanjangan.
“Itu akan sangat sulit,” kata Prabowo terkait upaya menjaga stabilitas harga bahan bakar jika harga minyak dunia terus meningkat.
Selain itu, Prabowo juga menegaskan pemerintah akan secara bertahap mengurangi ketergantungan pada subsidi bahan bakar. Sebagai alternatif, pemerintah akan mendorong pengembangan energi terbarukan, khususnya tenaga surya yang ditargetkan memiliki kapasitas hingga 100 gigawatt dalam beberapa tahun ke depan.
“Kita tidak bisa bertahan hidup dengan subsidi dalam jangka panjang,” pungkasnya.














