Ketegangan di Selat Hormuz: Trump Klaim Militer Iran Sudah ‘Tamat’ dan Tak Berdaya

JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan sikap kerasnya dengan menolak opsi gencatan senjata dalam konflik yang tengah berlangsung melawan Iran.

Trump menilai posisi militer Teheran saat ini sudah sangat lemah dan berada di ambang kehancuran total.

“Saya tidak ingin melakukan gencatan senjata. Anda tidak melakukan gencatan senjata ketika Anda benar-benar sedang menghancurkan pihak lain,” tegas Trump saat memberikan keterangan di depan Gedung Putih, Jumat (20/3/2026), sebagaimana dikutip dari New York Post.

Trump juga menyoroti aksi Iran yang sempat menutup Selat Hormuz, jalur logistik minyak paling strategis di dunia.

Menurutnya, langkah Iran menyumbat selat tersebut justru menjadi bumerang yang memperburuk kondisi internal mereka sendiri. Ia mengklaim bahwa secara militer, kekuatan Iran sudah habis.

Mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran global tersebut, Trump melontarkan kritik pedas kepada aliansi NATO yang dinilainya kurang bernyali. “NATO bisa membantu kita, tetapi sejauh ini mereka belum memiliki keberanian untuk melakukannya. Namun pada titik tertentu, selat itu akan terbuka dengan sendirinya,” cetus Trump.

Iran Butuh 10 Tahun untuk Pulih Dalam wawancara terpisah, Trump mengungkapkan skala kerusakan yang dialami Iran akibat rentetan serangan AS dan sekutunya. Ia memprediksi Iran akan membutuhkan waktu setidaknya satu dekade untuk melakukan rekonstruksi nasional.

“Saya pikir jika saya berhenti sekarang, mereka akan membutuhkan 10 tahun untuk membangun kembali. Jika kita bertahan lebih lama, mereka tidak akan pernah bisa bangkit,” klaimnya.

Meski menunjukkan sikap agresif, Trump menegaskan bahwa tujuan utama operasi militer Washington bukanlah penggulingan rezim (regime change), melainkan memastikan Iran tidak memiliki akses terhadap senjata nuklir.

Namun, Trump memberikan sinyal ancaman baru dengan menyebut pihaknya sejauh ini masih menahan diri untuk tidak menyerang infrastruktur vital, termasuk fasilitas minyak di Pulau Kharg yang menampung 90% ekspor minyak Iran.

Ia memperingatkan bahwa opsi serangan terhadap sektor energi tersebut tetap tersedia di atas meja jika Teheran tidak segera tunduk pada tuntutan AS.