JurnalPatroliNews – Jakarta – Ketegangan di kawasan Timur Tengah mencapai level tertinggi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump memberikan waktu 48 jam bagi Teheran untuk membuka sepenuhnya akses di Selat Hormuz tanpa ancaman, atau menghadapi kehancuran infrastruktur energi nasional mereka.
“Jika Iran tidak sepenuhnya membuka Selat Hormuz tanpa ancaman dalam waktu 48 jam sejak saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar terlebih dahulu,” tegas Trump sebagaimana dikutip dari Politico, Minggu (22/3/2026).
Ultimatum ini muncul setelah pemerintah Inggris mengonfirmasi adanya upaya serangan rudal balistik Iran yang gagal terhadap pangkalan militer gabungan AS-Inggris di Diego Garcia. Laporan dari Mehr News Agency menyebutkan Teheran menembakkan dua rudal jarak menengah, namun keduanya meleset dari sasaran.
Reaksi Keras Teheran Iran tidak tinggal diam menghadapi ancaman tersebut. Juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbia memberikan peringatan balasan melalui Tasnim News Agency. Teheran mengancam akan meluncurkan serangan balasan masif ke seluruh fasilitas milik AS dan Israel di kawasan jika infrastruktur bahan bakar mereka digempur.
“Jika infrastruktur energi Iran diserang, maka seluruh fasilitas energi, teknologi informasi, dan fasilitas desalinasi milik AS serta Israel di kawasan akan menjadi target utama kami,” tulis pernyataan resmi tersebut.
Ancaman Rudal Jangkauan 4.000 KM Di sisi lain, laporan intelijen militer Israel memperingatkan bahwa Iran kini memiliki teknologi rudal balistik dengan daya jangkau mencapai 4.000 kilometer.
Jangkauan ini diklaim mampu menyasar kota-kota besar di Eropa seperti London, Paris, hingga Berlin, yang menambah dimensi baru dalam ancaman keamanan global.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah memicu kekhawatiran akan krisis energi dunia karena jalur tersebut merupakan urat nadi utama pengiriman minyak global.
Dunia kini menanti berakhirnya tenggat waktu 48 jam yang diberikan Washington, sementara pasar komoditas energi mulai menunjukkan fluktuasi tajam.













