Sikap Riyadh Berubah, MbS Izinkan Pangkalan King Fahd Digunakan Militer Amerika Serikat

JurnalPatroliNews – Jakarta – Peta kekuatan di Teluk Persia mengalami pergeseran drastis seiring meningkatnya tensi konflik regional. Dua kekuatan utama, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), dilaporkan mulai meninggalkan posisi netral mereka dan mempertimbangkan peran militer yang lebih aktif untuk mendukung Amerika Serikat (AS) dalam menghadapi agresi Iran.

Laporan The Wall Street Journal pada Selasa (24/3) mengungkapkan bahwa perubahan sikap ini dipicu oleh serangan berulang yang menyasar pangkalan militer serta fasilitas energi vital di wilayah kedaulatan mereka.

Meskipun sebelumnya bersikeras ingin tetap berada di luar pusaran perang, intensitas tekanan keamanan memaksa Riyadh dan Abu Dhabi meninjau ulang strategi pertahanan mereka.

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MbS), disebut-sebut semakin dekat untuk membawa kerajaan terlibat langsung dalam konflik.

Salah satu langkah paling signifikan adalah kabar pemberian izin bagi militer AS untuk menggunakan pangkalan udara King Fahd di Semenanjung Arab sebagai basis operasi.

“Kesabaran Arab Saudi terhadap serangan Iran tidaklah tanpa batas. Ide bahwa negara-negara Teluk tidak mampu merespons adalah sebuah salah perhitungan,” tegas Menteri Luar Negeri Saudi, Faisal bin Farhan, sebagaimana dikutip dari The New York Post.

Di sisi lain, UEA mulai melancarkan serangan di jalur ekonomi. Otoritas setempat dilaporkan telah menutup sejumlah institusi di Dubai yang terindikasi berafiliasi dengan rezim Teheran dan Garda Revolusi (IRGC).

Selain penutupan kantor, pemerintah UEA tengah mempertimbangkan pembekuan aset bernilai miliaran dolar milik entitas Iran. Langkah ini diprediksi akan mencekik ekonomi Iran yang sudah terpuruk akibat inflasi dan sanksi internasional.

Faktor utama yang memicu kekhawatiran kolektif negara-negara Teluk adalah ambisi Iran untuk menguasai secara penuh Selat Hormuz. Jalur laut strategis ini merupakan nadi energi dunia yang dilewati sekitar 20 persen pasokan minyak global.

Teheran dilaporkan berencana memberlakukan tarif sepihak bagi setiap kapal yang melintas, sebuah langkah yang dianggap sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas ekonomi dunia.

Kendati mulai bergerak merapat ke Washington, keterlibatan langsung dalam perang tetap menyimpan risiko besar bagi Riyadh dan Abu Dhabi.

Konflik yang meluas berpotensi menyeret kawasan ke dalam perang berkepanjangan, terutama jika terdapat perubahan kebijakan mendadak dari AS yang meninggalkan sekutunya menghadapi Iran sendirian.