JurnalPatroliNews – Jakarta – Ketegangan di kawasan Teluk mencapai titik baru setelah militer Iran mengklaim telah melancarkan serangan udara ke wilayah Uni Emirat Arab (UEA).
Pada Sabtu (28/3), Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeklaim berhasil menghantam lokasi yang disebut sebagai tempat persembunyian pasukan Amerika Serikat (AS) di Dubai.
Juru Bicara IRGC markas Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menyatakan bahwa operasi tersebut melibatkan kombinasi rudal dan pesawat tak berawak (drone).
Serangan ini diklaim menyasar dua titik spesifik yang diduga menjadi basis perlindungan bagi sekitar 500 personel militer AS.
“Pasukan Iran telah berhasil menghantam dua lokasi tempat sembunyi sekitar 500 pasukan AS di Dubai. Serangan ini mengakibatkan kerugian besar bagi mereka,” ujar Zolfaghari sebagaimana dilansir dari Al Jazeera.
Peringatan Terbuka untuk Washington Melalui kantor berita Iran, Tasnim, Zolfaghari mengungkapkan bahwa serangan ini merupakan tindak lanjut dari peringatan sebelumnya.
Pihak Iran menuding pasukan AS mulai berpindah ke lokasi-lokasi non-militer di luar markas utama guna menghindari deteksi pasca-serangkaian kehancuran yang terjadi sebelumnya.
Pernyataan tersebut diakhiri dengan seruan keras yang ditujukan langsung kepada pucuk pimpinan di Washington. IRGC menegaskan bahwa kehadiran militer AS di kawasan tersebut hanya akan berujung pada kekalahan.
“Trump dan para pimpinan militer AS harus sadar bahwa kawasan ini akan menjadi kuburan bagi tentara mereka. Tidak ada alasan lain bagi mereka selain menyerah,” tegas Zolfaghari.
Dampak Regional Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Uni Emirat Arab maupun Pentagon terkait detail kerusakan atau jumlah korban akibat klaim serangan tersebut.
Namun, insiden ini diprediksi akan semakin memanaskan situasi geopolitik di Asia Barat, terutama terkait keamanan jalur perdagangan internasional dan stabilitas ekonomi di negara-negara Teluk.











