Tekanan Global untuk Donald Trump, Gelombang Protes Anti-Perang Meluas ke Penjuru Eropa

JurnalPatroliNews – Jakarta – Gelombang aksi protes bertajuk “No Kings” yang mengguncang Amerika Serikat kini telah bertransformasi menjadi gerakan global.

Tekanan terhadap Presiden Donald Trump semakin menguat setelah ribuan demonstran di kota-kota besar Eropa, mulai dari London, Paris, hingga Roma, turun ke jalan secara serentak pada Sabtu (28/3/2026).

Gerakan ini dipicu oleh akumulasi kemarahan publik internasional terhadap rangkaian kebijakan Trump sejak menjabat kembali pada Januari 2025. Isu utama yang diangkat meliputi eskalasi konflik militer dengan Iran, kebijakan imigrasi yang kontroversial, serta kekhawatiran akan gaya kepemimpinan yang dinilai mengancam nilai-nilai demokrasi.

Eskalasi di Jantung Eropa Di Roma, Italia, sekitar 20 ribu orang dilaporkan memadati jalanan di bawah pengamanan ketat.

Para demonstran tidak hanya mengecam serangan udara AS dan Israel ke Iran, tetapi juga mengaitkan aksi ini dengan kritik terhadap Perdana Menteri Giorgia Meloni terkait reformasi sistem peradilan di negara tersebut.

Sementara itu, di London, massa membawa spanduk bertuliskan “Stop Far-Right Extremists” dan “Fight Racism”.

Mereka menyuarakan penolakan keras terhadap keterlibatan Inggris dalam mendukung “perang tanpa akhir” yang dinilai gegabah.

“Saya menentang semua perang Trump yang ilegal, tidak bermoral, sembrono, dan tak bertanggung jawab,” tegas Ada Shen, salah satu penyelenggara aksi di Bastille, Paris, sebagaimana dikutip dari Euronews.

Gerakan “No Tyrants” di Berbagai Benua Skala demonstrasi ini dilaporkan telah menjangkau lebih dari 12 negara, termasuk wilayah Amerika Latin hingga Australia.

Di beberapa negara dengan sistem monarki, aksi ini mengadopsi nama “No Tyrants” sebagai simbol perlawanan terhadap kepemimpinan yang dianggap otoriter.

Para analis menilai bahwa luasnya jangkauan gerakan “No Kings” menandai munculnya salah satu blok oposisi transnasional paling signifikan dalam sejarah politik modern Amerika Serikat.

Skala aksi ini juga menjadi sinyal kuat bagi Gedung Putih bahwa kebijakan luar negerinya kini berada di bawah pengawasan ketat mata dunia.