JurnalPatroliNews – KUWAIT CITY — Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah serangan drone yang dikaitkan dengan Iran menghantam kompleks pemerintahan di ibu kota Kuwait pada Sabtu malam (4/4/2026).
Kementerian Keuangan Kuwait menyatakan serangan tersebut menyebabkan kerusakan properti dalam skala besar, meski tidak menimbulkan korban jiwa. Menyusul insiden itu, pemerintah memutuskan menerapkan kebijakan kerja dari rumah (WFH) bagi pegawai mulai Minggu (5/4/2026).
Selain kompleks pemerintahan, otoritas setempat melaporkan dua fasilitas pembangkit listrik dan desalinasi air turut menjadi sasaran. Serangan tersebut mengakibatkan kerusakan material signifikan dan membuat dua unit pembangkit listrik tidak dapat beroperasi.
Militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udara saat ini tengah merespons ancaman lanjutan dari rudal dan pesawat tak berawak.
“Pertahanan udara Kuwait sedang menanggapi ancaman rudal dan drone musuh,” demikian pernyataan militer, dikutip dari TRT World.
Sementara itu, Kuwait Petroleum Corporation melaporkan kebakaran terjadi di kompleks minyak Shuwaikh akibat serangan drone. Tim pemadam kebakaran dan darurat langsung dikerahkan untuk mengendalikan situasi.
Tidak ada laporan korban luka dalam insiden tersebut, namun kerusakan infrastruktur dinilai cukup signifikan.
Serangan ini terjadi di tengah eskalasi konflik kawasan menyusul serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran sejak akhir Februari.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal yang menargetkan sejumlah negara di kawasan, termasuk Kuwait, serta wilayah lain seperti Yordania dan Irak yang memiliki keterkaitan dengan kehadiran militer Amerika Serikat.
Perkembangan ini menandai meluasnya konflik di kawasan Teluk dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas energi serta keamanan regional.













