Eskalasi Lebanon: Serangan Israel Tewaskan 15 Orang, Jalur Perbatasan Suriah Resmi Ditutup

JurnalPatroliNews – Jakarta – Eskalasi militer di Lebanon kembali mencapai titik kritis pada Minggu (5/4). Serangan udara intensif yang dilancarkan militer Israel di berbagai wilayah Lebanon dilaporkan menewaskan sedikitnya 15 orang, termasuk seorang anak perempuan berusia empat tahun, serta memaksa penutupan jalur perbatasan utama menuju Suriah.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Lebanon, kawasan Jnah di Beirut menjadi salah satu titik terdampak paling parah dengan lima korban jiwa dan 52 orang luka-luka. Serangan juga menghantam wilayah Ain Saadeh di timur Beirut yang menewaskan tiga orang, serta Kfar Hatta di wilayah selatan yang merenggut tujuh nyawa.

“Banyak kaca pecah dan pasien mengalami serangan panik yang hebat,” ujar seorang tenaga medis di Rumah Sakit Universitas Rafik Hariri, menggambarkan situasi mencekam saat ledakan mengguncang area sekitar rumah sakit.

Penutupan Jalur Masnaa Selain jatuhnya korban sipil, konflik ini berdampak signifikan pada jalur logistik kawasan.

Militer Israel mengeluarkan ancaman akan menyerang perlintasan perbatasan Masnaa, jalur utama yang menghubungkan Lebanon dan Suriah, dengan alasan jalur tersebut digunakan untuk kepentingan militer Hizbullah.

Merespons ancaman tersebut, otoritas kedua negara sepakat menutup sementara perbatasan Masnaa. Penutupan ini melumpuhkan jalur perdagangan penting serta mobilitas warga yang hendak mengungsi maupun mencari perlindungan.

Desakan Negosiasi di Tengah Krisis Di tengah gempuran yang terus meningkat, Presiden Lebanon Joseph Aoun kembali menyerukan pentingnya jalur diplomasi.

Ia mendesak adanya negosiasi segera dengan pihak Israel guna meminimalisir kehancuran infrastruktur sipil yang tersisa.

“Mengapa kita tidak bernegosiasi, setidaknya untuk menyelamatkan rumah-rumah yang belum hancur?” ujar Aoun sebagaimana dikutip dari Reuters, Senin (6/4).

Sementara itu, pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) mengeluarkan peringatan keras bahwa serangan yang terjadi di dekat pos-pos mereka berisiko memicu eskalasi balasan yang lebih luas dan membahayakan personel internasional.

Sejak konflik memanas pada Maret 2026, serangan Israel di Lebanon tercatat telah menewaskan lebih dari 1.400 orang dan memaksa lebih dari satu juta warga meninggalkan rumah mereka.

Krisis kemanusiaan ini kini menjadi perhatian utama dunia internasional seiring dengan terputusnya akses logistik ke negara tetangga.