JurnalPatroliNews – Jakarta – Eskalasi konflik antara Iran dan koalisi Amerika Serikat (AS)-Israel kembali merenggut nyawa warga sipil yang tak berdosa. Sedikitnya enam anak dilaporkan tewas dalam serangan udara yang menghantam kawasan permukiman Baharestan, Provinsi Teheran, pada Senin (6/4).
Berdasarkan laporan kantor berita Fars, korban anak-anak tersebut terdiri dari empat anak perempuan dan dua anak laki-laki. Seluruh korban dilaporkan masih berusia di bawah 10 tahun. Insiden ini menambah daftar panjang korban sipil di wilayah jantung pertahanan Iran sejak perang pecah pada akhir Februari lalu.
Media AlJazeera, mengutip sumber yang sama, menyebutkan bahwa total korban tewas dalam serangan di permukiman padat penduduk tersebut mencapai 13 orang.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi independen dari pihak ketiga terkait rincian target serangan maupun jumlah pasti korban jiwa di lokasi kejadian.
Dampak Perang Terhadap Anak-Anak Meningkatnya intensitas serangan udara di kawasan pemukiman memicu keprihatinan global terkait keselamatan anak-anak. Sejak konflik memanas, jumlah korban di kalangan anak-anak terus menunjukkan tren kenaikan yang signifikan.
Salah satu catatan kelam terjadi pada awal perang di Minab, di mana serangan terhadap sebuah sekolah dasar putri dilaporkan merenggut nyawa lebih dari 160 anak dan guru, menurut data yang dilansir Reuters.
Kondisi serupa juga terjadi di Lebanon. Otoritas setempat mencatat sedikitnya 126 anak telah tewas sejak konflik meluas ke wilayah mereka.
Tingginya angka kematian di kalangan anak-anak ini menunjukkan betapa destruktifnya dampak perang terhadap warga sipil yang berada di garis depan konflik geopolitik Timur Tengah tahun 2026 ini.
Dunia internasional kini terus mendesak adanya perlindungan terhadap zona sipil dan fasilitas pendidikan guna mencegah bertambahnya korban jiwa dari kalangan anak-anak di tengah kebuntuan negosiasi damai.












