JurnalPatroliNews – JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi keuangan negara masih dalam posisi aman di tengah potensi kenaikan harga minyak dunia. Pemerintah bahkan telah menyiapkan bantalan fiskal berupa Sisa Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp420 triliun untuk mengantisipasi lonjakan subsidi energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM).
Purbaya menjelaskan, skenario pengelolaan anggaran telah disimulasikan dengan asumsi harga minyak dunia mencapai 100 dolar AS per barel hingga akhir tahun. Dalam kondisi tersebut, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diyakini tetap terjaga di bawah ambang batas.
“Saya sudah exercise dengan harga minyak dunia rata-rata 100 dolar AS per barel sampai akhir tahun. Dengan berbagai penghematan, defisit masih bisa dijaga di sekitar 2,9 persen,” ujarnya di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Senin (6/4/2026).
Meski demikian, pemerintah juga menyiapkan skenario darurat apabila harga minyak melonjak lebih tinggi dari perkiraan. Dalam kondisi tersebut, SAL yang saat ini tersimpan sebesar Rp420 triliun dapat digunakan sebagai bantalan tambahan.
“Kalau kepepet, selama suplai masih ada, kita punya bantalan uang yang cukup besar dari SAL. Itu bisa digunakan,” tegasnya.
Namun demikian, Purbaya menilai peluang harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS dalam jangka panjang relatif kecil. Ia menyinggung dinamika politik di Amerika Serikat yang dinilai berpotensi menekan harga energi global.
Lebih jauh, ia meminta masyarakat tidak khawatir terhadap kondisi keuangan negara. Pemerintah, kata dia, telah menghitung secara matang setiap kebijakan yang diambil, termasuk konsekuensi fiskalnya.
“Masyarakat tidak usah khawatir. Negara tidak kehabisan uang. Uang kita cukup untuk menjaga stabilitas ekonomi,” tandas Purbaya.













