JurnalPatroliNews – Jakarta – Eskalasi ketegangan antara Teheran dan Washington mencapai titik didih baru. Markas Besar Angkatan Bersenjata Iran, Khatam Al-Anbiya, secara resmi mengabaikan ultimatum Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengancam akan menghancurkan infrastruktur sipil Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka.
Melalui media siar pemerintah Iran sebagaimana dikutip dari AFP, Selasa (7/4), otoritas militer Iran menegaskan bahwa mentalitas pejuang mereka tidak akan goyah oleh tekanan dari pihak luar.
“Ancaman yang kasar, arogan, retoris, dan tak berdasar dari Presiden AS yang delusional tidak memiliki efek apa pun bagi para pejuang Islam dalam melawan AS dan Zionis,” tegas pernyataan resmi dari Markas Besar Khatam Al-Anbiya.
Ultimatum ‘Hari Neraka’ Donald Trump Ketegangan ini bermula dari unggahan tajam Donald Trump di akun media sosial Truth Social pada Minggu (5/4). Trump memberikan tenggat waktu hingga Selasa malam waktu setempat bagi rezim pimpinan Ali Khamenei untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Jika tidak dipenuhi, Trump mengancam akan menargetkan objek vital nasional Iran. “Selasa akan menjadi hari bagi pembangkit listrik dan jembatan di Iran. Buka Selat Hormuz, atau kalian akan hidup dalam ‘neraka’,” tulis Trump dalam unggahannya yang provokatif.
Titik Nadir Distribusi Energi Global Selat Hormuz merupakan urat nadi distribusi minyak dan gas dunia yang sangat vital. Kontrol ketat yang dilakukan Iran atas jalur ini telah memicu kekhawatiran global akan krisis energi dan memicu respons militer agresif dari koalisi AS dan sekutunya.
Langkah Iran yang tetap bergeming di tengah ancaman serangan terhadap infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik dan jembatan menempatkan kawasan Timur Tengah pada ambang peperangan yang lebih luas.
Hingga saat ini, jalur diplomasi tampak buntu sementara armada militer kedua belah pihak berada dalam status siaga tertinggi menjelang berakhirnya tenggat waktu yang ditetapkan Washington.













