JurnalPatroliNews – Jakarta – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melontarkan kritik tajam terhadap Amerika Serikat menyusul eskalasi serangan udara masif yang dilancarkan Israel ke wilayah Lebanon pada Rabu (8/4).
Serangan yang dilaporkan menewaskan sedikitnya 200 orang tersebut terjadi hanya satu hari setelah Iran dan AS menyepakati gencatan senjata selama dua pekan.
Kesepakatan jeda pertempuran tersebut dimediasi oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif. Dalam draf mediasi tersebut, PM Sharif menekankan bahwa penghentian kekerasan seharusnya mencakup seluruh sekutu Iran, termasuk pemberlakuan gencatan senjata di wilayah Lebanon.
“Dunia sekarang sedang melihat pembantaian di Lebanon. Bolanya sekarang ada di Amerika Serikat; apakah mereka akan memenuhi komitmen mereka?” tulis Araghchi melalui akun resmi media sosial X miliknya, Kamis (9/4).
Ujian bagi Diplomasi Amerika Serikat Sebagai sekutu terdekat Israel, posisi AS kini berada dalam sorotan Teheran. Araghchi menegaskan bahwa pemerintah Washington tidak bisa menjalankan standar ganda dalam upaya deeskalasi konflik di Timur Tengah.
Ia menekankan bahwa keberhasilan gencatan senjata yang baru saja disepakati sangat bergantung pada kemampuan AS untuk mengendalikan tindakan militer sekutunya.
“Gencatan senjata AS-Iran memiliki syarat yang jelas. AS harus memilih antara gencatan senjata yang sesungguhnya atau meneruskan perang melalui tangan Israel. Mereka tidak bisa memilih keduanya,” tegas Araghchi.
Guna memperkuat argumennya, Menlu Iran juga menampilkan poin-poin kesepakatan yang sebelumnya diunggah oleh PM Sharif, terutama mengenai klausul penghentian serangan terhadap mitra strategis Iran dan stabilitas di kedaulatan Lebanon.
Eskalasi Paling Brutal Sejak Maret Serangan udara pada Rabu tersebut dinilai sebagai operasi militer paling mematikan sejak Israel memulai invasi darat ke Lebanon pada pertengahan Maret 2026.
Area gempuran dilaporkan mencakup wilayah yang sangat luas, menyebabkan ratusan warga luka-luka dan infrastruktur sipil hancur total.
Situasi ini mengancam keberlangsungan kesepakatan damai sementara yang baru berusia 24 jam. Jika AS gagal memberikan tekanan diplomatik kepada Israel, pihak Iran mengisyaratkan bahwa komitmen gencatan senjata di sektor lain kemungkinan besar akan terganggu, yang berpotensi memperpanjang krisis energi dan keamanan global yang telah berlangsung sejak Februari lalu.











