Netanyahu Tolak Gencatan Senjata, Israel Siap Lanjutkan Operasi Militer


JurnalPatroliNews – Jakarta –  Ketegangan di kawasan Timur Tengah dipastikan belum mereda dalam waktu dekat. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara tegas menolak usulan gencatan senjata yang didorong Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di tengah meningkatnya konflik dengan Iran.

Dalam pernyataannya yang dikutip dari kanal resmi pemerintah Israel, Kamis (9/4/2026), Netanyahu menegaskan bahwa posisi Israel saat ini lebih kuat dibandingkan Iran, dan operasi militer yang sedang berlangsung belum mencapai seluruh target yang ditetapkan.

“Iran lebih lemah dari sebelumnya, dan Israel lebih kuat dari sebelumnya. Ini adalah inti dari kampanye militer ini hingga saat ini. Dan saya ingin mengklarifikasi: kita masih memiliki tujuan yang harus diselesaikan,” ujar Netanyahu.

Ia menegaskan bahwa Israel siap melanjutkan operasi militer kapan pun diperlukan. Menurutnya, penyelesaian konflik bisa ditempuh melalui kesepakatan, namun opsi militer tetap terbuka lebar.

“Kita akan mencapainya dengan kesepakatan atau dengan dimulainya kembali pertempuran. Kami siap melanjutkan pertempuran kapan pun. Jari kami sudah di pelatuk,” tegasnya.

Sementara itu, dari Washington, juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyampaikan bahwa Trump tengah mendorong upaya penghentian sementara pertempuran. Langkah tersebut dinilai penting untuk meredakan eskalasi serta membuka ruang bagi proses negosiasi.

Menurut Leavitt, pembicaraan diplomatik yang berlangsung bersifat sangat sensitif dan akan digelar secara tertutup dalam dua pekan ke depan.

Salah satu isu strategis yang menjadi perhatian dalam negosiasi tersebut adalah akses dan stabilitas di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global yang kerap menjadi titik ketegangan antara pihak-pihak yang berkonflik.

“Negosiasi yang sangat sensitif ini akan berlangsung selama dua minggu ke depan secara tertutup,” kata Leavitt.

Dengan sikap keras dari Israel dan upaya diplomasi yang masih berjalan, situasi di kawasan diperkirakan tetap berada dalam kondisi rawan eskalasi dalam waktu dekat.