JurnalPatroliNews – Teheran – Implementasi gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang telah berjalan selama dua hari mulai menunjukkan dampak pada sektor maritim global.
Salah satu poin krusial dalam kesepakatan tersebut adalah komitmen Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi pasokan energi dunia. Meskipun demikian, aktivitas perlintasan di wilayah tersebut terpantau masih pulih secara perlahan.
Hingga Kamis (9/4) malam waktu setempat, data pemantauan maritim menunjukkan baru terdapat 10 kapal yang melintasi Selat Hormuz. Berdasarkan laporan Kpler yang dilansir AFP, armada yang melintas tersebut terdiri dari 4 kapal tanker dan 6 kapal curah (bulk carrier).
Menariknya, mayoritas kapal yang melintas masih didominasi oleh armada domestik Iran. Tercatat hanya satu kapal asing, yakni kapal kargo ‘MSG’ berbendera Gabon, yang melakukan transit.
Kapal tersebut diketahui membawa muatan 7.000 ton Bahan Bakar Minyak (BBM) dari Uni Emirat Arab dengan tujuan akhir India.
Sementara itu, puluhan kapal lainnya dilaporkan mulai mengarah ke mulut selat, mayoritas adalah kapal dengan tujuan pelabuhan di Iran atau berbendera negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik netral dengan Teheran.
Proyeksi dan Prosedur Keamanan Maritim Analis senior dari Kpler, Ana Subasic, memproyeksikan bahwa frekuensi lalu lintas kapal akan stabil di kisaran 10 hingga 15 unit per hari, asalkan stabilitas gencatan senjata tetap terjaga. Pembukaan jalur ini menjadi indikator utama bahwa negosiasi diplomatik mulai membuahkan hasil nyata di lapangan.
Guna menjamin keselamatan navigasi, Garda Revolusi Iran (IRGC) telah mengeluarkan rute alternatif bagi kapal-kapal komersial. Langkah ini diambil untuk menghindari risiko ranjau laut yang sebelumnya tersebar di wilayah perairan tersebut selama masa konflik.
Kapal-kapal yang melintas diinstruksikan untuk mengambil jalur yang mendekati Pulau Larak, sebuah lokasi strategis yang terletak di sebelah selatan Bandar Abbas.
Selain kewajiban mengikuti rute yang ditentukan, pihak militer Iran menegaskan bahwa jaminan keamanan perlintasan hanya diberikan kepada kapal-kapal yang bersedia berkolaborasi dan berkomunikasi aktif dengan Angkatan Laut Iran.
Prosedur pengawalan dan pemantauan ini diterapkan guna memastikan stabilitas keamanan di Selat Hormuz tetap terkendali selama masa transisi gencatan senjata ini berlangsung.












