Salju Abadi Puncak Jaya Terancam Punah, Ini Asal-usul dan Penyebabnya


JurnalPatroliNews – JAKARTA — Fenomena salju abadi di Indonesia yang berada di Puncak Jaya, Pegunungan Jayawijaya, Papua, kini menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim global. Keberadaan es yang selama ribuan tahun terbentuk di kawasan tropis tersebut terus mengalami penyusutan signifikan.

Puncak Jaya yang berada di ketinggian sekitar 4.884 meter di atas permukaan laut merupakan salah satu dari sedikit wilayah di dunia yang memiliki gletser di dekat garis khatulistiwa. Suhu ekstrem di ketinggian ini memungkinkan terbentuknya salju, meskipun wilayah sekitarnya beriklim tropis.

Salju di kawasan ini terbentuk melalui proses alami jangka panjang. Uap air di atmosfer membeku pada suhu rendah, kemudian menumpuk dan memadat hingga menjadi gletser. Berbeda dengan salju musiman di negara empat musim, salju di Puncak Jaya bersifat permanen atau dikenal sebagai perennial snow.

Secara historis, fenomena ini pertama kali dilaporkan oleh pelaut Belanda, Jan Carstensz, pada 1623. Namun, klaim tersebut sempat diragukan karena dianggap mustahil adanya salju di wilayah tropis. Keberadaan salju baru terkonfirmasi pada awal abad ke-20 melalui ekspedisi yang dipimpin Hendrik A. Lorentz pada 1909, dan pendakian pertama ke puncaknya dilakukan oleh Heinrich Harrer pada 1962.

Pada masa lalu, kawasan ini memiliki beberapa gletser besar, termasuk Gletser Meren, dengan luas mencapai ribuan hektare. Namun, kondisi tersebut kini berubah drastis.