Mediasi Washington Berlanjut: Gencatan Senjata Lebanon-Israel Masuk Putaran Kedua

JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi mengumumkan perpanjangan gencatan senjata antara Lebanon dan Israel selama tiga pekan ke depan.

Keputusan ini dicapai usai pertemuan tingkat tinggi yang dimediasi oleh Washington di Gedung Putih, Kamis (23/4).

Pertemuan bersejarah di Ruang Oval tersebut mempertemukan Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, dan Duta Besar Lebanon untuk AS, Nada Moawad. Ini merupakan putaran kedua dari rangkaian pembicaraan intensif guna meredam eskalasi konflik di Timur Tengah.

“Pertemuan berjalan sangat baik! Amerika Serikat akan bekerja sama dengan Lebanon untuk membantunya melindungi diri dari Hizbullah,” tulis Trump melalui akun media sosialnya, dikutip dari Reuters, Jumat (24/4).

Trump juga menyatakan ambisinya untuk segera mempertemukan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun di Gedung Putih guna mencari solusi permanen.

Menurunkan Intensitas Kekerasan Kesepakatan sebelumnya yang dicapai pekan lalu dijadwalkan berakhir pada Minggu besok.

Meski bentrokan kecil masih dilaporkan terjadi di wilayah Lebanon selatan, gencatan senjata ini dinilai efektif menurunkan intensitas kekerasan secara signifikan di sepanjang perbatasan.

Saat ini, pasukan Israel masih menduduki zona penyangga sejauh 5 hingga 10 kilometer di wilayah Lebanon selatan dengan alasan keamanan wilayah utara.

Di sisi lain, kelompok Hizbullah yang didukung Iran menegaskan tetap memiliki “hak untuk melawan” pasukan pendudukan.

Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh sejumlah pejabat teras AS, termasuk Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee, serta Duta Besar AS untuk Lebanon Michel Issa.

Hizbullah Tuntut Kepatuhan Mutlak Israel Menanggapi perpanjangan ini, anggota parlemen dari faksi Hizbullah, Hassan Fadlallah, menyatakan dukungannya agar gencatan senjata berlanjut. Namun, ia menekankan syarat kepatuhan penuh dari pihak Israel.

Fadlallah juga dengan tegas menolak adanya pembicaraan tatap muka langsung dan mendesak pemerintah Lebanon untuk menghindari kontak diplomatik langsung dengan Tel Aviv.

Otoritas Lebanon melaporkan bahwa hampir 2.500 orang telah tewas sejak eskalasi pecah pada awal Maret lalu.

Pada tahap pembicaraan berikutnya, Lebanon diperkirakan akan mendorong penarikan total pasukan Israel, pemulangan tahanan, serta penetapan batas darat resmi antar kedua negara.