JurnalPatroliNews – NEW YORK — Nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada penutupan perdagangan Jumat (24/4/2025) di pasar uang New York. Pelemahan mata uang Negeri Paman Sam dipicu kombinasi sentimen geopolitik dan dinamika kepemimpinan bank sentral AS.
Kurs Greenback tertekan seiring meningkatnya harapan meredanya konflik di Timur Tengah serta perkembangan terbaru terkait suksesi di Federal Reserve.
Keputusan Departemen Kehakiman Amerika Serikat untuk menghentikan penyelidikan terhadap Gubernur The Fed Jerome Powell dinilai membuka jalan bagi Kevin Warsh, yang disebut sebagai kandidat pilihan Donald Trump, untuk memimpin bank sentral tersebut.
Pelaku pasar menilai Warsh memiliki kecenderungan lebih agresif dalam memangkas suku bunga dibanding Powell. Ia disebut lebih mengacu pada indikator inflasi trimmed mean yang saat ini berada di bawah inflasi inti, sehingga membuka ruang pelonggaran kebijakan moneter lebih cepat.
Ekspektasi tersebut langsung tercermin di pasar. Peluang pemangkasan suku bunga pada akhir tahun melonjak menjadi 38 persen, dari sebelumnya sekitar 23 persen.
Sentimen positif juga datang dari rencana pertemuan di Islamabad antara utusan AS, yakni Steve Witkoff dan Jared Kushner, dengan pihak Iran. Meskipun jadwal belum diumumkan, kabar ini memicu harapan deeskalasi konflik kawasan yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.
Meredanya kekhawatiran krisis energi turut mengurangi permintaan terhadap Dolar AS sebagai aset safe haven.
Seiring pelemahan tersebut, sejumlah mata uang utama menguat. Euro naik ke level 1,1714 Dolar AS, sementara Poundsterling menguat ke posisi 1,3523 Dolar AS. Di kawasan Asia, Yen Jepang juga terapresiasi ke level 159,4 per Dolar.
Dari pasar aset digital, Bitcoin tercatat melemah tipis sekitar 0,47 persen ke kisaran 77.558 Dolar AS.
Memasuki pekan depan, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada arah kebijakan moneter global. The Fed diperkirakan masih menahan suku bunga sambil mencermati dampak konflik terhadap inflasi.
Sementara itu, Bank Sentral Eropa diproyeksikan mempertahankan suku bunga pada akhir April, meski mayoritas ekonom memperkirakan kenaikan pada Juni guna meredam potensi guncangan energi.
Di Jepang, Bank of Japan menghadapi dilema seiring tren inflasi yang mulai melandai. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama bahkan telah mengingatkan kemungkinan intervensi jika pergerakan Yen dinilai terlalu spekulatif.
Pelaku pasar saat ini cenderung mengambil posisi hati-hati atau wait and see. Selama belum ada kepastian terkait perdamaian di Timur Tengah, pergerakan mata uang global diperkirakan masih terbatas dalam kisaran tertentu.










