JurnalPatroliNews – Jakarta – Prospek negosiasi damai langsung antara Iran dan Amerika Serikat di Islamabad, Pakistan, masih diliputi ketidakpastian hingga Jumat (24/4) malam waktu setempat.
Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi mengenai pertemuan tatap muka antara kedua belah pihak dalam putaran kedua pembicaraan tersebut.
Laporan dari televisi pemerintah Iran mengindikasikan bahwa Abbas Araghchi, pejabat tinggi Iran yang telah berada di lokasi, tidak memiliki rencana untuk bertemu langsung dengan delegasi Amerika Serikat.
Dalam skema diplomasi ini, pemerintah Pakistan disebut hanya akan berperan sebagai perantara atau mediator untuk menyampaikan poin-poin usulan dari pihak Iran terkait upaya penghentian konflik.
Di pihak Amerika Serikat, Gedung Putih telah mengonfirmasi bahwa utusan yang dijadwalkan tiba di Pakistan pada Sabtu adalah Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Meskipun Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyatakan kesiapannya untuk hadir di Islamabad jika diperlukan, namanya belum masuk dalam daftar delegasi yang dijadwalkan hadir dalam waktu dekat.
Kementerian Luar Negeri Pakistan secara resmi membenarkan kehadiran Araghchi di Islamabad. Berdasarkan keterangan otoritas setempat, agenda utama Araghchi adalah bertemu dengan pejabat Pakistan guna membahas langkah-langkah strategis demi menciptakan perdamaian dan stabilitas regional.
Dalam pernyataan tersebut, pihak Pakistan tidak menyinggung adanya agenda pertemuan khusus dengan utusan Amerika Serikat.
Sementara itu, juru bicara pemerintah Iran mengungkapkan bahwa setelah menyelesaikan agenda di Pakistan, Araghchi dijadwalkan melanjutkan perjalanan diplomasi ke Oman dan Rusia.
Serangkaian kunjungan maraton ini difokuskan pada pembahasan upaya mengakhiri ketegangan bersenjata yang menurut klaim pihak Iran telah dilancarkan terhadap mereka sejak akhir Februari 2026.
Absennya pertemuan langsung ini menunjukkan masih tingginya hambatan diplomatik antara Teheran dan Washington.
Pola komunikasi melalui pihak ketiga di Islamabad mencerminkan pendekatan hati-hati kedua negara dalam menavigasi krisis yang tengah berlangsung di kawasan tersebut.












