JurnalPatroliNews – JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto kembali melakukan perombakan kabinet atau reshuffle Jilid V pada Senin, 27 April 2026. Langkah ini menjadi reshuffle kelima dalam kurun waktu 1,5 tahun masa pemerintahannya.
Frekuensi pergantian pejabat di posisi-posisi strategis tersebut memicu sorotan publik dan memunculkan diskusi mengenai efektivitas manajemen kekuasaan di tengah berbagai tantangan nasional yang semakin kompleks.
Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif SCL Taktika, Iqbal Themi, menilai ritme perombakan kabinet yang begitu rapat menunjukkan adanya persoalan struktural dalam upaya menemukan komposisi tim pemerintahan yang efektif dan stabil.
“Secara strategis, Presiden terlihat seperti sedang melakukan eksperimen formasi di tengah pertandingan yang krusial,” ujar Iqbal Themi dalam keterangan tertulis, Selasa, 28 April 2026.
Menurutnya, dalam perspektif manajemen pemerintahan, reshuffle yang terlalu sering tidak hanya sekadar pergantian figur, tetapi juga berdampak langsung terhadap keberlanjutan kebijakan serta stabilitas sistem kerja birokrasi.
Ia menilai, pergantian pejabat secara berulang dapat menghambat konsistensi program kerja yang tengah berjalan, terutama pada sektor-sektor strategis yang membutuhkan kesinambungan kebijakan.
Dalam konteks yang lebih luas, Iqbal juga menekankan pentingnya transparansi dalam dasar pengambilan keputusan reshuffle agar publik dapat memahami alasan sebenarnya di balik pergantian kabinet tersebut.
“Publik berhak mengetahui apakah reshuffle ini berbasis pada kinerja yang terukur atau sekadar bagian dari kalibrasi politik,” katanya.
Ia menambahkan, keseimbangan antara pertimbangan teknokratis dan kepentingan politik menjadi hal penting agar reshuffle tidak hanya dipandang sebagai langkah politis semata, tetapi benar-benar bertujuan meningkatkan efektivitas pemerintahan.
Menurutnya, siklus penyesuaian yang terus berulang tidak boleh mengganggu fokus utama pemerintah dalam merealisasikan program-program prioritas yang telah dijanjikan kepada masyarakat.
“Pada titik ini, fase uji coba seharusnya sudah berakhir agar pemerintah dapat fokus sepenuhnya pada realisasi program yang dijanjikan,” pungkasnya.














