Tragedi Tabrakan Maut Bekasi Timur, Sorotan Tertuju pada Green SM yang Dinilai Tak Sampaikan Permintaan Maaf


JurnalPatroliNews – Bekasi – Tragedi tabrakan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di kawasan Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026, terus menyisakan duka mendalam sekaligus sorotan tajam dari masyarakat. Salah satu yang menjadi perhatian publik adalah tidak adanya permintaan maaf terbuka dari pihak perusahaan taksi listrik Green SM Indonesia yang disebut sebagai pemicu awal insiden tersebut.

Kecelakaan tragis itu menewaskan sedikitnya 15 orang dan menyebabkan 84 lainnya mengalami luka-luka. Benturan keras antara kereta api jarak jauh dan KRL Commuter Line terjadi setelah sistem persinyalan terganggu akibat insiden sebelumnya di perlintasan sebidang tidak resmi dekat kawasan Bulak Kapal.

Berdasarkan informasi yang beredar, sebuah taksi listrik milik Green SM dilaporkan mogok di perlintasan tersebut. Kendaraan itu kemudian tertemper KRL yang melintas, menyebabkan gangguan operasional dan membuat rangkaian Commuter Line berhenti di jalur yang sama.

Dalam situasi itulah KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari Stasiun Gambir datang dari arah belakang. Karena jarak yang terlalu dekat dan kecepatan tinggi, tabrakan tak dapat dihindari.

Akibat benturan tersebut, sejumlah gerbong mengalami kerusakan parah. Korban jiwa berjatuhan, sementara puluhan penumpang lainnya mengalami luka fisik maupun trauma psikologis.

Di tengah suasana duka, warganet ramai menyoroti sikap Green SM Indonesia yang dinilai belum menunjukkan empati secara terbuka kepada para korban dan keluarga yang ditinggalkan. Banyak pihak menyayangkan tidak adanya pernyataan permintaan maaf yang jelas dari perusahaan tersebut.

Sebaliknya, PT Kereta Api Indonesia (KAI) dinilai lebih cepat merespons dengan menyampaikan permohonan maaf serta komitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan perjalanan kereta.

Presiden Prabowo Subianto turut turun langsung meninjau korban di RSUD Kota Bekasi. Dalam kunjungannya, Prabowo menjanjikan investigasi menyeluruh dan percepatan perbaikan terhadap sekitar 1.800 perlintasan sebidang di seluruh Indonesia dengan alokasi anggaran mencapai Rp4 triliun.

Langkah itu disebut sebagai bagian dari evaluasi besar terhadap sistem keselamatan transportasi nasional agar tragedi serupa tidak kembali terjadi.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi juga menyampaikan komitmennya untuk memberikan santunan sebesar Rp50 juta kepada keluarga korban meninggal dunia serta menanggung biaya pengobatan korban luka.

Namun di tengah janji bantuan dan investigasi, publik tetap mempertanyakan akar persoalan yang lebih mendasar, yakni pembiaran terhadap perlintasan tanpa palang yang selama ini menjadi titik rawan kecelakaan.

Banyak pihak menilai tragedi di Bekasi Timur bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan akumulasi dari lemahnya sistem keselamatan, kelalaian pihak swasta, serta lambannya penanganan infrastruktur transportasi.

Peristiwa itu menjadi pengingat keras bahwa keselamatan publik tidak bisa hanya dibicarakan setelah korban berjatuhan. Lebih dari sekadar santunan dan investigasi, masyarakat menuntut tanggung jawab nyata—termasuk keberanian untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf.