JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan keraguan mendalam terhadap proposal damai terbaru yang diajukan Iran.
Trump bahkan menegaskan bahwa opsi serangan militer tetap berada di atas meja jika Teheran dianggap kembali melakukan tindakan yang merugikan kepentingan global.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Sabtu (2/5/2026) sebelum bertolak ke Florida. Ia mengaku telah mendapatkan gambaran umum mengenai konsep proposal tersebut dari tim penasihatnya, meski masih menunggu rincian teks final untuk ditinjau lebih lanjut.
“Mereka (tim penasihat) telah memberi tahu saya tentang konsep kesepakatan itu. Saya akan segera meninjau redaksi lengkapnya,” ujar Trump sebagaimana dilansir dari AFP.
Meski proses peninjauan masih berjalan, Trump secara terbuka pesimistis proposal tersebut akan diterima oleh Washington.
Melalui akun Truth Social miliknya, Trump menilai Iran belum menerima konsekuensi yang setimpal atas tindakan mereka sejak revolusi tahun 1979.
“Sulit membayangkan rencana ini bisa diterima karena mereka belum membayar harga yang cukup besar atas apa yang telah mereka lakukan terhadap kemanusiaan dan dunia selama 47 tahun terakhir,” tulis Trump, Minggu (3/5/2026).
Saat ditanya mengenai kemungkinan dimulainya kembali operasi militer, Trump menolak memberikan jawaban pasti namun tetap memberikan peringatan keras. “Jika mereka berperilaku buruk atau melakukan sesuatu yang buruk, kita lihat saja. Itu (serangan militer) adalah kemungkinan yang bisa terjadi,” tegasnya.
Iran Tawarkan Skema Negosiasi Bertahap
Di sisi lain, pihak Teheran mencoba melunakkan ketegangan dengan menawarkan skema baru. Dilaporkan Reuters, seorang pejabat senior Iran menyebut proposal tersebut berisi langkah-langkah konkret untuk mengakhiri konflik, termasuk pembukaan kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz dengan imbalan penghentian blokade ekonomi oleh AS.
Strategi unik dalam proposal ini adalah usulan untuk menunda pembahasan program nuklir yang merupakan isu paling sensitif ke tahap akhir negosiasi.
Hal ini dimaksudkan agar kesepakatan mengenai isu-isu mendesak lainnya dapat tercapai lebih cepat.
“Negosiasi mengenai isu nuklir yang lebih kompleks dipindahkan ke tahap akhir demi menciptakan suasana yang lebih kondusif,” ungkap pejabat Iran tersebut.
Selain tuntutan pencabutan blokade, Iran juga mendesak adanya jaminan keamanan bahwa AS dan Israel tidak akan melancarkan serangan balasan di masa depan jika kesepakatan damai berhasil dicapai.














