JurnalPatroliNews – Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersiap menunaikan ibadah haji dalam waktu dekat. Menjelang keberangkatannya, ia mengaku akan menjalani latihan terlebih dahulu untuk memahami tata cara pelaksanaan ibadah haji dengan baik.
Purbaya mengatakan, pada Rabu malam (6/5/2026), dirinya dijadwalkan mengikuti pembekalan sebagai bagian dari persiapan sebelum berangkat ke Tanah Suci.
“Oh nanti malam mau latihan tuh, katanya malam saya mau tentir gimana cara melakukan haji yang baik,” kata Purbaya Yudhi Sadewa kepada awak media di Jakarta.
Selain menyiapkan ibadah, Purbaya juga telah menyiapkan doa khusus yang akan dipanjatkannya saat menjalankan ibadah haji, yakni agar pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II tahun 2026 semakin kuat dan berkelanjutan.
Menurutnya, stabilitas ekonomi nasional harus terus dijaga agar masyarakat dapat merasakan manfaat pertumbuhan secara merata dalam beberapa tahun ke depan.
“Iya doanya pertumbuhan ekonomi makin cepat. Doa supaya kita ekonomi makin kuat. Tiga tahun lagi kita kaya bareng-bareng,” ujarnya.
Purbaya Yudhi Sadewa dijadwalkan berangkat ke Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji pada 21 Mei 2026 mendatang.
Ia menilai, kinerja ekonomi nasional saat ini menunjukkan tren yang positif setelah berhasil mencatat pertumbuhan di atas 5 persen. Pemerintah pun optimistis momentum tersebut dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan pada kuartal berikutnya.
“Ini kan kita udah, kalau saya bilang kita udah keluar dari kutukan pertumbuhan 5 persen kan, 5,61. Kita harapkan ke depan makin cepat, kita akan jaga momentum pertumbuhan yang ada. Tapi temen-temen juga bantu doain dong, jangan dijelek-jelekin terus,” tuturnya.
Menanggapi kritik terhadap kondisi fiskal nasional, Purbaya menegaskan bahwa fundamental fiskal Indonesia tetap dalam kondisi kuat dengan defisit anggaran yang terkendali.
Ia bahkan menyebut posisi fiskal Indonesia cukup kompetitif dibandingkan banyak negara lain, baik di kawasan Asia maupun secara global.
“Fiskal bagus dibilang jelek, fiskal bagus defisitnya terkendali dibilang itu yang melemah nilai tukar. Padahal dibanding seluruh negara di Asia, di dunia, kita ini paling canggih loh,” pungkasnya.













