JurnalPatroliNews – BEIRUT — Ketegangan di Lebanon kembali meningkat setelah serangan udara Israel menghantam kawasan Dahieh, pinggiran selatan Beirut, dan menewaskan komandan senior Hizbullah, Malek Ballout.
Serangan yang terjadi pada Rabu waktu setempat, 6 Mei 2026, menjadi serangan pertama yang menyasar benteng utama Hizbullah di Beirut selatan dalam hampir satu bulan terakhir.
Sumber yang dekat dengan Hizbullah mengonfirmasi kepada AFP bahwa Ballout, yang dikenal sebagai komandan operasi di Pasukan Radwan, tewas dalam serangan tersebut.
Ballout disebut sebagai salah satu figur penting dalam Pasukan Radwan, unit elite Hizbullah yang selama ini menjadi tulang punggung operasi militer kelompok tersebut.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka menyatakan bahwa militer Israel memang menargetkan komandan pasukan Radwan Hizbullah dalam operasi tersebut.
Sementara itu, kantor berita resmi Lebanon, National News Agency, melaporkan pesawat tempur Israel menyerang kawasan Ghobeiri, wilayah padat penduduk yang dikenal sebagai salah satu basis kuat Hizbullah.
Menurut sumber keamanan Lebanon, rudal Israel menghantam sebuah apartemen tempat sejumlah pemimpin Pasukan Radwan tengah menggelar pertemuan.
Di lokasi kejadian, bangunan dilaporkan hancur menjadi puing-puing, sementara warga sipil berlarian menyelamatkan diri sambil membawa barang-barang seadanya.
Banyak warga Dahieh sebelumnya juga telah meninggalkan kawasan tersebut sejak konflik regional pecah pada Maret lalu.
Gelombang serangan Israel pada hari yang sama turut menghantam wilayah Lebanon bagian selatan dan timur, menewaskan sedikitnya 11 orang lainnya, menurut data dari Kementerian Kesehatan Lebanon.
Di kota Saksakiyeh, empat orang dilaporkan tewas dan 33 lainnya mengalami luka-luka, termasuk enam anak-anak dan empat perempuan. Kondisi ini menunjukkan besarnya dampak sipil dari eskalasi militer yang terus berlanjut.
Sejak perang pecah pada 2 Maret 2026, lebih dari 2.700 orang di Lebanon dilaporkan meninggal dunia, sementara lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi akibat konflik yang terus meluas.













