AS Jatuhkan Sanksi pada Sembilan Perusahaan Tiongkok-Hong Kong Pendukung Program Militer Iran


JurnalPatroliNews – Jakarta –   United States resmi menjatuhkan sanksi terhadap sembilan perusahaan dan individu asal Tiongkok daratan serta Hong Kong dengan tuduhan membantu militer Iran memperoleh senjata dan material strategis untuk mendukung program drone serta rudal balistiknya.

Mengutip laporan South China Morning Post, Minggu (10/5), keputusan tersebut diumumkan oleh Departemen Keuangan AS dan Departemen Luar Negeri AS menjelang kunjungan Presiden Donald Trump ke China pekan depan.

Departemen Keuangan AS menyebut pihak-pihak yang dikenai sanksi telah mendukung upaya militer Iran untuk mengamankan persenjataan sekaligus membantu pengadaan bahan baku pesawat tanpa awak seri Shahed serta rudal balistik Iran.

Salah satu perusahaan yang masuk daftar sanksi adalah Yushita Shanghai International Trade Company yang berbasis di Tiongkok daratan. Perusahaan tersebut dituduh membantu Teheran dalam pembelian persenjataan strategis.

Selain itu, Hitex Insulation Ningbo Company juga masuk daftar hitam karena disebut memasok material senilai jutaan dolar yang digunakan dalam riset rudal balistik dan uji peluncuran. Perwakilan hukumnya, Li Genping, turut dikenai sanksi.

Dari Hong Kong, HK Hesin Industry Company dituduh berperan sebagai perantara pengadaan, sementara Mustad Limited disebut membantu Islamic Revolutionary Guard Corps atau IRGC memperoleh senjata.

Secara terpisah, Departemen Luar Negeri AS juga menjatuhkan sanksi terhadap empat perusahaan lain, termasuk tiga perusahaan Tiongkok yang dituding menyediakan citra satelit untuk mendukung serangan Iran terhadap pasukan AS di Timur Tengah.

Perusahaan-perusahaan tersebut antara lain Chang Guang Satellite Technology, The Earth Eye, dan MizarVision. Washington menuduh MizarVision bahkan mempublikasikan citra sumber terbuka yang merinci aktivitas militer AS selama perang berlangsung.

Sanksi ini berpotensi memblokir akses perusahaan-perusahaan tersebut ke sistem keuangan global berbasis dolar AS yang menjadi jalur penting dalam perdagangan dan investasi internasional.

Langkah Washington datang hanya beberapa hari sebelum lawatan Trump ke Beijing pada 14–15 Mei, yang menjadi kunjungan pertamanya ke China sejak 2017.

Di saat bersamaan, para pejabat senior pemerintahan Trump, termasuk Menteri Keuangan Scott Bessent dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, terus meningkatkan tekanan terhadap Beijing agar menggunakan pengaruhnya atas Iran guna mendorong gencatan senjata.

Namun Beijing tetap menunjukkan sikap tegas sambil terus menyerukan jalur perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran.