JurnalPatroliNews – JAKARTA — Nilai tukar Rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah libur panjang Iduladha 1447 Hijriah. Pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026, kurs Rupiah tercatat menembus level Rp17.858 per dolar AS, menjadi salah satu posisi terlemah dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi tersebut memicu sorotan publik, termasuk dari analis komunikasi politik Hendri Satrio yang mempertanyakan respons otoritas moneter terhadap pelemahan mata uang domestik di tengah momentum libur panjang.
Melalui akun X miliknya, Hendri yang akrab disapa Hensa menyindir kemungkinan minimnya intervensi pasar karena aktivitas lembaga keuangan yang berkurang selama libur nasional.
“Apakah ini efek libur panjang, BI juga libur, enggak ada yang intervensi, enggak ada yang jagain, dolar naik terus,” ujar Hensa, Kamis, 28 Mei 2026.
Pelemahan Rupiah belakangan menjadi perhatian pelaku pasar karena terjadi di tengah meningkatnya tekanan global serta tingginya kebutuhan devisa dalam negeri.
Jika tren pelemahan terus berlanjut, kondisi tersebut dikhawatirkan dapat berdampak terhadap kenaikan harga barang impor, tekanan inflasi, hingga meningkatnya beban pembayaran utang luar negeri.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan Rupiah saat ini tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang menurutnya masih cukup kuat.
“Kan fundamentalnya bagus, sebetulnya nggak masuk akal. Rupiah melemah itu kalau ada gangguan,” ujar Purbaya saat ditemui di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Rabu, 27 Mei 2026.
Pemerintah sebelumnya juga memastikan kondisi pasar obligasi domestik masih relatif terkendali meskipun nilai tukar Rupiah mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir.














