Rupiah Tertekan Sentimen Internal, Level Rp 18.000 per Dolar AS Jadi Ancaman Nyata

JurnalPatroliNews – Jakarta – Nilai tukar Rupiah Rp 18.000 per Dolar AS kembali menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan yang terus berlanjut.

Pelemahan mata uang Garuda ini dipicu oleh kombinasi sentimen global dan dinamika domestik yang dinilai belum sepenuhnya kondusif bagi para pelaku pasar.

Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa siang, posisi mata uang Indonesia terpantau berada pada level Rp 17.861 per dolar Amerika Serikat.

Angka tersebut mencerminkan tren depresiasi yang masih menghantui pasar keuangan nasional seiring ketidakpastian arah kebijakan ekonomi ke depan.

Pengamat mata uang dari PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa tekanan saat ini tidak hanya datang dari faktor eksternal semata.

Ia menyoroti sentimen domestik yang menjadi perhatian utama investor, terutama terkait rencana pernyataan MSCI mengenai kondisi pasar modal di Indonesia.

Selain faktor pasar modal, rencana realisasi sejumlah program prioritas pemerintah juga menjadi poin pengamatan krusial bagi para pemangku kepentingan.

Program makan bergizi gratis serta inisiatif koperasi desa merah putih dinilai memberikan pengaruh terhadap persepsi pelaku pasar mengenai kesehatan fiskal negara.

Ibrahim menilai pasar saat ini masih berada dalam posisi menunggu kepastian mengenai dampak jangka panjang dari beban fiskal tersebut terhadap stabilitas ekonomi.

Menariknya tekanan terhadap rupiah tetap menguat meskipun harga minyak mentah dunia cenderung mengalami pelemahan di pasar global.

Padahal secara teori penurunan harga energi seharusnya memberikan ruang napas bagi Indonesia yang merupakan negara importir minyak.

Kondisi internal yang belum menunjukkan penguatan signifikan membuat prediksi mengenai Rupiah Rp 18.000 per Dolar AS menjadi kian realistis.

Ibrahim memperkirakan adanya potensi pelemahan lebih lanjut hingga menembus level psikologis baru dalam waktu dekat.

Meskipun pemerintah berulang kali menegaskan bahwa fundamental ekonomi nasional masih cukup solid, namun tantangan di lapangan tetap menunjukkan tren sebaliknya.

Komentar