Sepakati Gencatan Senjata, Lebanon Bentuk ‘Zona Percontohan’ Militer Tanpa Aktor Non-Negara

JurnalPatroliNews – Washington – Pemerintah Israel dan Lebanon secara resmi menyepakati keputusan gencatan senjata pada Rabu waktu setempat.

Kendati demikian, dalam poin kesepakatan tersebut kelompok milisi Hizbullah diminta untuk menghentikan total seluruh serangan ke wilayah Israel.

Langkah gencatan senjata ini tertuang secara resmi dalam sebuah pernyataan bersama pascaperundingan dua negara yang dipimpin oleh Amerika Serikat.

Proses diplomasi tingkat tinggi tersebut dilaporkan berlangsung di kawasan Washington, Amerika Serikat.

Melansir laporan dari Reuters, keberhasilan gencatan senjata ini sangat bergantung pada penghentian total tembakan oleh pihak Hizbullah.

Selain penghentian tembakan, kelompok tersebut juga diwajibkan melakukan evakuasi seluruh anggotanya keluar dari wilayah Lebanon Selatan.

Hingga saat ini, pihak negara Israel dan Lebanon diketahui memang tidak memiliki hubungan diplomatik resmi.

Meski demikian, dalam klausul kesepakatan damai kali ini, kedua belah pihak setuju untuk membentuk apa yang disebut sebagai zona percontohan.

Kawasan khusus tersebut nantinya menjadi tempat di mana angkatan bersenjata resmi Lebanon diberi wewenang memegang kendali penuh.

Otoritas militer resmi Lebanon akan mengontrol kawasan tanpa harus melibatkan unsur ataupun campur tangan dari aktor non-negara.

Ketegangan di Perbatasan dan Agenda Pertemuan Lanjutan Akhir Juni

Perkembangan diplomasi terbaru ini berhasil terwujud di tengah situasi baku tembak di perbatasan kedua negara yang masih terus berlanjut.

Pihak Hizbullah mengeklaim bahwa rangkaian aksi baku tembak yang mereka lakukan ditujukan khusus untuk menargetkan tentara Israel.

Sebelum rangkaian tembakan dari Hizbullah pecah di perbatasan, tentara Israel dilaporkan telah meluncurkan serangan ke selatan Lebanon.

Agresi militer dari pihak pasukan Israel di wilayah selatan tersebut dilaporkan mengakibatkan sedikitnya delapan orang warga sipil tewas.

Adapun perundingan teranyar yang berujung pada kesepakatan gencatan senjata ini merupakan hasil dari pelaksanaan negosiasi tahap keempat.

Rangkaian negosiasi tersebut intensif digelar setelah pertempuran antara Israel dan milisi Hizbullah di Lebanon pecah pada 2 Maret 2025 lalu.

Berdasarkan isi kesepakatan, kedua belah pihak dijadwalkan akan kembali bertemu pada pekan 22 Juni mendatang.

Pertemuan lanjutan tersebut ditargetkan untuk melahirkan sebuah kesepakatan perdamaian yang jauh lebih komprehensif bagi kedua negara.

Komentar