JurnalPatroliNews – JAKARTA – Bursa saham Eropa mengakhiri perdagangan Kamis (4/6/2026) waktu setempat di zona hijau, didorong membaiknya sentimen investor setelah meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut turut menekan harga minyak dunia dan mengurangi kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi yang dapat membebani kinerja korporasi.
Indeks utama kawasan Eropa, EURO STOXX 50, ditutup menguat 0,8 persen ke level 6.103. Sementara itu, STOXX Europe 600 naik 0,5 persen menjadi 624.
Penguatan pasar dipicu oleh kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang memunculkan harapan akan deeskalasi konflik di kawasan. Meredanya ketegangan tersebut dinilai dapat membantu menjaga kelancaran pasokan energi global sekaligus mengurangi risiko terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.
Sektor perbankan menjadi salah satu motor utama penguatan bursa Eropa. Saham Banco Santander, Deutsche Bank, dan UniCredit masing-masing mencatat kenaikan antara 1,5 persen hingga 3 persen.
Kinerja positif juga ditunjukkan sektor dirgantara. Saham Airbus melonjak 4,6 persen dan menjadi salah satu kontributor terbesar terhadap penguatan indeks regional.
Di tingkat negara, indeks DAX menguat 0,6 persen ke posisi 24.944,95. Sementara indeks CAC 40 mencatat kenaikan lebih tinggi, yakni 1,15 persen ke level 8.244,29.
Adapun indeks FTSE 100 naik 0,27 persen menjadi 10.360,32. Namun, penguatan pasar Inggris tertahan oleh pelemahan saham-saham sektor energi yang terdampak penurunan harga minyak dunia.
Saham Shell tercatat turun 1,5 persen, sedangkan BP melemah 0,3 persen.
Di sisi lain, sejumlah saham sektor keuangan mengalami tekanan. Saham HSBC terkoreksi hampir 2 persen setelah muncul laporan bahwa sejumlah bank mulai membatasi pembukaan rekening di Hong Kong bagi nasabah dari China daratan.
Tekanan juga dialami saham Prudential plc yang merosot 7,6 persen serta Standard Chartered yang turun 3,1 persen.
Meski demikian, secara keseluruhan pasar saham Eropa tetap ditopang oleh optimisme investor terhadap membaiknya kondisi geopolitik global dan berkurangnya tekanan inflasi akibat penurunan harga energi. Sentimen tersebut mendorong minat investor terhadap sektor-sektor yang sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi, termasuk perbankan dan industri manufaktur.














Komentar