JurnalPatroliNews – Washington – Otoritas keamanan federal Amerika Serikat berhasil membongkar dan menggagalkan rencana serangan terorisme berskala besar yang ditargetkan langsung ke jantung pemerintahan di Gedung Putih.
Biro Investigasi Federal atau FBI dilaporkan telah menangkap lima orang individu yang diduga kuat bertindak sebagai perancang utama operasi penyerangan bersenjata tersebut.
Aksi teror tersebut rencananya bakal dilancarkan di tengah kerumunan massa yang menghadiri ajang tarung bebas bergengsi UFC Freedom 250, sebuah acara terbuka yang turut dihadiri langsung oleh Presiden Donald Trump.
Direktur FBI, Kash Patel, mengonfirmasi kabar penangkapan tersebut kepada awak media dan menegaskan bahwa seluruh individu yang terlibat saat ini telah berada di dalam tahanan guna interogasi mendalam.
Berdasarkan berkas dakwaan resmi yang dirilis oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat, kelima tersangka diketahui menyusun skenario serangan udara menggunakan perangkat nirawak atau drone.
Para pelaku berniat menerbangkan sejumlah drone yang telah dimodifikasi dengan pasokan bahan peledak militer tepat di atas lokasi arena pertandingan tarung bebas tersebut.
Sesuai rencana operasional mereka, ledakan dari drone pengebom tersebut diproyeksikan untuk memicu kepanikan massal yang memaksa otoritas pengamanan melakukan evakuasi darurat secara tergesa-gesa.
Di saat kerumunan orang berlarian menyelamatkan diri, jaringan penembak jitu dari kelompok teror ini yang sudah bersiap di perimeter luar akan melepaskan tembakan maut ke arah target bernilai tinggi.
Salah satu pilar penting dari kelompok ini yang berhasil diringkus adalah seorang pemuda berusia 19 tahun bernama Tycen Proper, yang terdeteksi sudah diamankan sejak sepekan lalu.
Penangkapan Proper bermula dari tindakan proaktif ibu kandungnya sendiri yang melaporkan kepada pihak kepolisian bahwa putranya kedapatan melakukan komunikasi intensif dengan jaringan kelompok sayap kanan ekstremis secara daring.
Dari hasil penggeledahan di kediaman Proper di wilayah negara bagian Ohio, petugas menemukan timbunan senjata api, ribuan butir amunisi aktif, serta berbagai perlengkapan taktis militer siap pakai.
Penyidik juga menemukan dokumen catatan Proper yang mengidentifikasi sejumlah target pembunuhan potensial di masa depan, termasuk di antaranya beberapa nama anggota Kongres Amerika Serikat.
Pada akhir pekan kemarin, Donald Trump memang terpantau hadir langsung menyaksikan pertandingan tersebut bersama ribuan penggemar olahraga bela diri campuran yang memadati kawasan ring luar kompleks kepresidenan.
Gedung Putih sendiri dikenal memiliki perimeter keamanan berlapis yang sangat ketat, mulai dari pengawasan intelijen konvensional, radar pertahanan udara penolak drone, tim penembak jitu kontra-teror, hingga pasukan reaksi cepat militer.
Direktur Dinas Rahasia Amerika Serikat, Sean Curran, melalui pernyataan resminya menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh agen khusus dan tim keamanan teknis yang bekerja tanpa henti dalam memetakan dan memotong pergerakan sel teror ini.
Agenda UFC Freedom 250 itu sendiri bertepatan dengan momentum perayaan hari ulang tahun Donald Trump yang ke-80, sekaligus menjadi gong pembuka rangkaian peringatan 250 tahun deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat.
Sementara itu, Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, mengaku baru menerima informasi detail mengenai rencana pembunuhan massal tersebut sesaat setelah pihak markas besar FBI merilis pengumuman resmi ke publik.
Vance menggambarkan draf operasi para pelaku sebagai bentuk nyata dari rencana teroris yang sangat terkoordinasi, terencana secara matang, serta melibatkan jaringan logistik yang berbahaya.
Ia juga memanfaatkan momentum ini untuk menyinggung langkah investigasi yang tengah digodok pemerintahan Trump dalam menelusuri aliran dana dan sirkuit jaringan kelompok sayap kiri radikal di dalam negeri.
Kendati belum merinci secara detail mengenai motif utama dari kelima pelaku, Vance melayangkan tudingan politik dengan menyebut bahwa retorika anti-Trump yang kerap didengungkan kubu Demokrat ikut andil memicu suburnya kekerasan politik di Amerika Serikat.
Sebagai bentuk pemenuhan aspek keberimbangan informasi bagi publik, media ini membuka ruang hak jawab maupun klarifikasi sesuai ketentuan Undang-Undang Pers.












Komentar