Konflik Lebanon Selatan Masih Memanas, Menlu Iran Tegaskan Perang Belum Berakhir

JurnalPatroliNews – Paris – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melayangkan teguran terbuka yang cukup keras kepada sekutu dekatnya, Israel, sehubungan dengan eskalasi operasi militer yang terus berkecamuk di wilayah Lebanon.

Teguran diplomatik tersebut disampaikan oleh Trump di sela-sela menghadiri agenda pertemuan puncak negara-negara anggota G7 yang berlangsung di Prancis.

Menurut pandangan Trump, kampanye militer yang dilancarkan oleh angkatan bersenjata Israel dalam melawan kelompok Hizbullah dinilai telah berjalan terlalu lama dan mengorbankan terlalu banyak jiwa dari kalangan warga sipil yang tidak bersalah.

Trump juga menggarisbawahi bahwa dirinya sama sekali tidak memberikan restu terhadap aksi pemboman yang menyasar fasilitas umum serta bangunan apartemen yang masih dihuni oleh masyarakat sipil di Lebanon.

Lebih jauh, Trump membeberkan draf saran diplomatik yang sempat ia ajukan kepada otoritas Israel, yakni agar Tel Aviv memberikan ruang gerak bagi militer Suriah untuk memimpin pergerakan meredam pengaruh Hizbullah, alih-alih Israel terus memperluas invasi daratnya.

Trump meyakini jika Israel tidak mampu merampungkan tugas tersebut tanpa menumpahkan darah masyarakat sipil, maka Suriah yang akan mengambil alih tindakan nyata di lapangan untuk menyelesaikan konflik tersebut.

Pernyataan bernada peringatan dari pemimpin Gedung Putih tersebut mencuat di tengah rilis laporan lapangan mengenai rentetan serangan terbaru Israel di Provinsi Nabatieh, Lebanon selatan, yang dilaporkan menewaskan sedikitnya empat orang warga.

Agresi udara tersebut dilancarkan lewat mekanisme drone tempur yang menyasar unit kendaraan di kawasan Mayfadoun dan Shoukin, yang terjadi pasca-adanya kesepahaman awal antara pihak Amerika Serikat dan Iran untuk meredakan ketegangan regional.

Menandai situasi yang masih memanas, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan secara diplomatis bahwa status peperangan di Timur Tengah belum sepenuhnya berakhir selama pos-pos militer Israel masih mempertahankan pendudukannya di teritorial kedaulatan Lebanon selatan.

Pihak Markas Besar Komando Militer Gabungan Tertinggi Iran, Khatam al-Anbiya, turut melayangkan ancaman bakal melepaskan respons militer yang jauh lebih keras apabila aksi penggempuran di garis perbatasan terus berjalan.

Di saat yang sama, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dalam komunikasi formalnya mendesak Washington agar memanfaatkan pengaruh politiknya untuk menekan Israel segera menarik mundur seluruh pasukan tempurnya demi menghentikan kehancuran total di Lebanon.

Sebagai bentuk pemenuhan aspek keberimbangan informasi bagi publik, media ini membuka ruang hak jawab maupun klarifikasi sesuai ketentuan Undang-Undang Pers.

Komentar