Teken Islamabad MoU secara Elektronik, Amerika Serikat dan Iran Sepakat Sudahi Konflik Timur Tengah

JurnalPatroliNews – Versailles – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara resmi menandatangani kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.

Nota kesepahaman yang diberi nama Islamabad Memorandum of Understanding tersebut ditandatangani secara elektronik dan jarak jauh oleh kedua kepala negara pada Rabu lalu.

Pemimpin Amerika Serikat mengonfirmasi pengesahan dokumen tersebut di sela agenda makan malam bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron setelah pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi G7 di Istana Versailles.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menyatakan bahwa pengesahan oleh pejabat tertinggi kedua negara sudah cukup memberikan legitimasi politik tanpa memerlukan seremoni resmi yang mendesak.

Pasca-penandatanganan dokumen bersejarah tersebut, kedua belah pihak dijadwalkan memasuki masa negosiasi lanjutan selama dua bulan ke depan guna membahas tahapan implementasi kesepakatan.

Kendati demikian, Donald Trump mengeluarkan peringatan keras akan melancarkan serangan militer besar-besaran apabila pihak Teheran terbukti melanggar komitmen yang telah disepakati bersama.

Respon positif juga datang dari Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang mengumumkan bahwa pihak Iran akan segera membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

Sebagai imbalannya, pihak Washington berkomitmen untuk secepatnya mencabut seluruh blokade laut yang selama ini melumpuhkan aktivitas ekonomi di kawasan perairan tersebut.

Negosiasi tingkat teknis lebih lanjut dilaporkan akan tetap berjalan melalui sebuah pertemuan seremonial yang difasilitasi oleh pemerintah Pakistan dan Qatar di Swiss pada Jumat ini.

Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Bagher Ghalibaf menegaskan rencana negaranya untuk tetap mengenakan biaya layanan bagi kapal-kapal internasional yang melintasi Selat Hormuz setelah masa transisi berakhir.

Kabar perdamaian ini langsung memicu reaksi di pasar komoditas global dengan menguatnya harga minyak mentah berjangka jenis Brent dan West Texas Intermediate di bursa internasional.

Konflik berdarah antara poros Amerika Serikat-Israel melawan Iran sendiri tercatat telah berlangsung sejak akhir Februari tahun ini dan memicu krisis energi serta pangan global.

Komentar