JurnalPatroliNews | Tel Aviv – Pemerintah Israel menegaskan belum memiliki rencana maupun jadwal untuk menarik pasukan Israel Defense Forces (IDF) dari Jalur Gaza maupun Lebanon selatan. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah berlangsungnya putaran terbaru perundingan damai antara Israel dan Lebanon yang dimediasi Amerika Serikat di Washington.
Sikap tersebut disampaikan Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang menegaskan bahwa keberadaan pasukan Israel di sejumlah wilayah konflik masih dianggap penting untuk menjamin keamanan nasional dan mencegah ancaman dari kelompok bersenjata.
“Kita harus tetap berada di zona keamanan di Lebanon, di Suriah, dan di Gaza, bukan untuk waktu yang terbatas, guna membela penduduk dan komunitas kita dari unsur-unsur ekstremis,” ujar Katz, Kamis (25/6/2026).
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah Israel tidak akan menarik pasukan dari wilayah Lebanon selatan meskipun menghadapi tekanan internasional.
“Kami menentang penarikan pasukan IDF dari zona keamanan di Lebanon, terlepas dari semua tekanan yang ada maupun yang akan datang,” tegasnya.
Pernyataan senada disampaikan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Ia memastikan militer Israel tetap memiliki keleluasaan penuh untuk menjalankan operasi di Lebanon selatan selama dinilai masih diperlukan.
“Saya telah menjelaskan kepada IDF: Anda memiliki kebebasan bertindak sepenuhnya,” kata Netanyahu.
Israel melancarkan operasi militer ke Lebanon sejak Maret 2026 dengan sasaran utama wilayah selatan yang selama ini dikenal sebagai basis kelompok Hizbullah, sekutu dekat Iran. Sementara itu, operasi militer Israel di Jalur Gaza telah berlangsung sejak 2023 dan terus menjadi sorotan dunia internasional akibat tingginya jumlah korban sipil serta krisis kemanusiaan yang berkepanjangan.
Meskipun gencatan senjata di Lebanon telah diumumkan sebelumnya, berbagai laporan menyebutkan bentrokan dan serangan masih beberapa kali terjadi, sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan kesepakatan damai tersebut.
Di sisi lain, proses negosiasi antara Israel dan Lebanon yang dimediasi Amerika Serikat terus berlangsung sejak April 2026. Pemerintah Lebanon diketahui bersedia mengikuti dialog langsung setelah mendapat dorongan diplomatik dari Washington.
Putaran terbaru perundingan yang dimulai tiga hari sebelumnya dijadwalkan berakhir pada Kamis (25/6) waktu Amerika Serikat. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan kedua belah pihak semakin mendekati kesepakatan terkait penghentian aksi militer di wilayah perbatasan.
Penghentian operasi militer Israel di Lebanon sendiri menjadi salah satu poin penting dalam kerangka kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang ditandatangani secara virtual oleh Presiden Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 17 Juni 2026.
Meski demikian, sikap Israel yang belum bersedia menarik pasukan dari Gaza maupun Lebanon menunjukkan bahwa proses menuju perdamaian permanen di kawasan Timur Tengah masih menghadapi tantangan besar, terutama terkait jaminan keamanan dan implementasi hasil negosiasi.












Komentar