Tak Hanya Hemat Devisa, B50 Diyakini Ciptakan Efek Domino bagi Perekonomian RI

JurnalPatroliNews | Jakarta – Program mandatori biodiesel B50 dinilai memiliki dampak strategis yang jauh melampaui sektor energi. Selain memperkuat ketahanan energi nasional, kebijakan tersebut diyakini mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) terhadap berbagai sektor ekonomi sekaligus membantu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah.

Pakar ekonomi Universitas Brawijaya (UB) Malang, Noval Adib, menilai penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel akan menggerakkan rantai ekonomi domestik secara lebih luas, mulai dari sektor perkebunan, industri pengolahan, distribusi hingga aktivitas logistik.

Menurutnya, implementasi B50 akan memberikan kontribusi positif terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) karena mampu mengurangi kebutuhan impor minyak mentah yang selama ini menjadi salah satu beban fiskal pemerintah.

“Program ini tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga mendorong aktivitas ekonomi di berbagai sektor. Industri sawit, distribusi, hingga mesin pengolahan akan ikut bergerak sehingga memberikan efek positif bagi perekonomian nasional,” ujar Noval, dikutip dari Antara, Sabtu (11/7/2026).

Ia menambahkan, optimalisasi pemanfaatan crude palm oil (CPO) sebagai bahan bakar merupakan langkah penting menuju kemandirian energi nasional.

Dengan semakin berkurangnya ketergantungan terhadap impor minyak, pemerintah berpeluang menekan pengeluaran negara sekaligus memperkuat ketahanan energi dalam jangka panjang.

Meski demikian, Noval mengingatkan bahwa keberhasilan implementasi Program B50 sangat bergantung pada kualitas pelaksanaan di lapangan.

Pemerintah diminta memastikan seluruh proses standardisasi, pengawasan, pengendalian, hingga evaluasi berjalan secara konsisten agar tujuan kebijakan dapat tercapai secara optimal.

“Tujuan B50 sangat baik untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak dunia. Namun implementasinya harus dijalankan secara disiplin melalui pengawasan dan evaluasi yang berkelanjutan,” katanya.

Selain aspek teknis, pemerintah juga didorong memperkuat sosialisasi kepada masyarakat agar tidak muncul kesalahpahaman terkait penggunaan biodiesel B50, terutama mengenai ketersediaan pasokan maupun harga bahan bakar.

Noval menegaskan, masyarakat pada dasarnya menginginkan bahan bakar yang mudah diperoleh dengan harga yang tetap terjangkau. Karena itu, implementasi B50 tidak boleh menimbulkan beban ekonomi baru bagi konsumen.

“Yang paling penting bagi masyarakat adalah BBM tetap tersedia dengan harga yang terjangkau. Jangan sampai penerapan B50 justru membuat harga menjadi lebih mahal dibanding solar biasa karena akan membebani masyarakat,” pungkasnya.

Program B50 merupakan salah satu strategi pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional melalui pemanfaatan sumber daya dalam negeri, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil impor di tengah dinamika pasar energi global.

Komentar