JurnalPatroliNews | Jakarta – Jakarta kembali menjadi sorotan dalam peta ekonomi global setelah masuk dalam daftar 25 Kota Termahal di Dunia 2026 bagi kalangan individu beraset tinggi (High-Net-Worth Individuals/HNWI).
Berdasarkan Global Wealth and Lifestyle Report 2026 yang diterbitkan Julius Baer, ibu kota Indonesia menempati peringkat ke-21 sebagai kota dengan biaya hidup premium tertinggi di dunia.
Pemeringkatan tersebut mengukur besarnya biaya yang dibutuhkan untuk mempertahankan gaya hidup mewah berdasarkan harga berbagai barang dan layanan eksklusif di 25 kota besar dunia.
Meski turun tiga tingkat dibandingkan posisi tahun sebelumnya yang berada di peringkat ke-18, Jakarta tetap mempertahankan posisinya sebagai salah satu kota dengan biaya hidup premium tertinggi di kawasan Asia Pasifik.
Dalam laporannya, Julius Baer mencatat bahwa biaya mempertahankan gaya hidup kelas atas secara global meningkat sekitar 10 persen sepanjang tahun, sehingga memengaruhi perubahan posisi sejumlah kota dalam indeks terbaru.
“Secara keseluruhan, biaya untuk mempertahankan standar hidup premium meningkat sekitar 10 persen sehingga komposisi peringkat kota dunia mengalami perubahan,” tulis Julius Baer dalam laporannya.
Jakarta Unggul di Sejumlah Kategori Premium
Laporan tersebut menunjukkan sejumlah komponen pengeluaran di Jakarta berada pada level yang sangat tinggi dibandingkan kota-kota lain di dunia.
Jakarta tercatat menempati:
- Peringkat 1 dunia untuk biaya pendidikan MBA.
- Peringkat 4 dunia untuk harga mobil.
- Peringkat 5 dunia untuk harga sampanye.
- Peringkat 8 dunia untuk tas wanita premium.
- Peringkat 9 dunia untuk biaya sekolah swasta.
- Peringkat 12 dunia untuk jasa hukum (lawyer services).
Sementara dua indikator lainnya, yakni harga setelan jas pria dan layanan spa, tidak dimasukkan dalam penilaian Jakarta karena berstatus Not Applicable (NA).
Asia Pasifik Masih Mendominasi
Julius Baer menilai kawasan Asia Pasifik masih menjadi pusat pertumbuhan kekayaan dunia. Hal itu tercermin dari dominasi lima kota di kawasan tersebut yang berhasil masuk dalam jajaran 10 besar kota termahal dunia bagi kelompok masyarakat beraset tinggi.
Singapura kembali mempertahankan posisi sebagai kota termahal di dunia selama empat tahun berturut-turut. Posisi berikutnya ditempati Hong Kong, Shanghai, Sydney, dan Bangkok.
Menurut Julius Baer, tingginya harga properti residensial, mahalnya kendaraan pribadi, serta kuatnya nilai tukar dolar Singapura menjadi faktor utama yang membuat negara kota tersebut tetap berada di posisi puncak.
Di sisi lain, Sydney menjadi kota dengan kenaikan peringkat paling signifikan tahun ini setelah melonjak enam posisi dibandingkan tahun sebelumnya.
Laporan ini menjadi gambaran bahwa meskipun Jakarta belum masuk kelompok 20 besar, biaya hidup premium di ibu kota Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan dan tetap menjadi salah satu kota dengan pengeluaran tertinggi bagi kalangan beraset besar di kawasan Asia.














Komentar