MPLS Berujung Duka, Praktisi Lingkungan Ingatkan Sekolah Jangan Abaikan Risiko Kegiatan Alam

JurnalPatroliNews GARUT – Tragedi yang menewaskan seorang siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) saat mendampingi kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Kecamatan Cisurupan menjadi pengingat bahwa aspek keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap kegiatan pembelajaran di luar ruang.

Peristiwa yang terjadi di Kampung Cibolang, Desa Cidatar, Kecamatan Cisurupan, Garut, Kamis (16/7/2026), tidak hanya menyisakan duka bagi keluarga korban dan dunia pendidikan, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan standar keselamatan dalam kegiatan yang berlangsung di kawasan alam.

Korban berinisial SJ, siswi kelas IX MTs Miftahul Ulum, meninggal dunia setelah terjatuh ke dalam bak penampung air saat mendampingi peserta didik baru dalam rangkaian kegiatan MPLS.

Kasi Humas Polres Garut, IPDA Susilo Adhi, mengatakan insiden terjadi setelah kegiatan tadabur alam selesai. Saat itu para peserta tengah beristirahat di sekitar lokasi.

“Setelah acara MPLS selesai dan kegiatan tadabur alam berakhir, para pelajar beristirahat. Saat itulah terjadi peristiwa tersebut,” ujarnya, Jumat (17/7/2026).

Korban diketahui datang bersama sejumlah siswa kelas IX untuk membantu pelaksanaan MPLS. Berdasarkan informasi kepolisian, delapan siswi berada di area bak penampung air ketika insiden terjadi. Tujuh orang berhasil diselamatkan, sedangkan SJ tidak dapat tertolong.

Petugas kepolisian telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), sementara jenazah korban telah diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan.

Baca juga: MPLS Unik di Garut, Siswa Baru Diajak Menyelamatkan Sungai Cimanuk

Peristiwa tersebut mendapat perhatian dari Praktisi Lingkungan Sekolah Sungai Cimanuk (SSC), Mulyono Kadapi, yang menilai kegiatan di kawasan alam memerlukan perencanaan dan prosedur keselamatan yang matang.

Menurutnya, berdasarkan informasi dari saksi di lokasi, korban bukan sedang berenang, melainkan terpeleset di area yang licin hingga terjatuh ke dalam bak penampung air. Upaya penyelamatan yang dilakukan teman-temannya bahkan menyebabkan beberapa di antaranya ikut tercebur.

“Ini merupakan musibah yang tidak diinginkan siapa pun. Namun setiap kegiatan di alam terbuka harus diawali dengan standar operasional prosedur yang jelas dan diterapkan secara disiplin. Lokasi yang licin, ruang gerak yang sempit, serta berada di dekat aliran sungai merupakan kombinasi risiko yang harus diantisipasi sejak awal,” kata Mulyono.

Ia menjelaskan, area di sekitar bak penampung air memiliki jalur pijakan yang sempit dengan permukaan licin. Kondisi tersebut diperparah oleh keberadaan batu-batu besar di dasar bak serta kedalaman air yang diperkirakan melebihi dua meter sehingga berpotensi membahayakan apabila terjadi kecelakaan.

Mulyono berharap kejadian ini menjadi bahan evaluasi bagi seluruh satuan pendidikan agar lebih selektif menentukan lokasi kegiatan luar ruang, melakukan pemetaan risiko, menyediakan pengawasan yang memadai, serta memastikan seluruh prosedur keselamatan dijalankan sebelum kegiatan dimulai.

“Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga diberikan kekuatan. Mudah-mudahan peristiwa ini menjadi pelajaran bersama agar setiap kegiatan pendidikan di alam terbuka selalu mengutamakan keselamatan peserta didik,” pungkasnya.

Komentar