JurnalPatroliNews | Jakarta – Harapan pasar terhadap berakhirnya konflik Amerika Serikat dan Iran kembali diuji. Ketidakjelasan mengenai kapan Selat Hormuz dapat dibuka secara penuh membuat harga minyak mentah kembali bergerak naik pada perdagangan Jumat (7/8/2026).
Minyak mentah Brent berjangka ditutup naik US$1,06 atau 1,3 persen menjadi US$83,55 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 89 sen atau 1,15 persen ke US$78,18 per barel.
Kenaikan tersebut terjadi setelah pasar sebelumnya sempat berharap konflik segera mereda dan aktivitas pelayaran di jalur strategis tersebut kembali normal.
Namun, harapan itu kembali menghadapi ketidakpastian setelah Iran meninjau rancangan aturan yang berpotensi melarang kapal berbendera Amerika Serikat dan Israel melintasi Selat Hormuz.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar kembali menghitung risiko gangguan pasokan energi global. Sekitar seperlima konsumsi minyak dunia sebelumnya melewati jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Iran dan Oman dilaporkan telah mencapai kemajuan mengenai rute yang dapat digunakan kapal untuk melintasi Selat Hormuz.
Namun, persoalan belum sepenuhnya selesai. Salah satu pertanyaan terbesar adalah apakah kapal berbendera, dimiliki, atau menuju pelabuhan Amerika Serikat akan memperoleh akses melalui jalur tersebut.
Washington juga disebut menginginkan jalur pelayaran dibuka tanpa pungutan biaya, sementara Iran mengusulkan biaya sekitar 5–7 persen dari nilai kargo. Oman sendiri membahas kemungkinan biaya sekitar 3 persen.
Perbedaan tersebut menjadi salah satu hambatan dalam implementasi kesepakatan.
Persoalan semakin rumit karena adanya sanksi Amerika Serikat terhadap otoritas yang dibentuk Iran untuk mengelola jalur tersebut. Selain itu, klausul asuransi perang yang berlaku bagi kapal juga dapat membuat perusahaan pelayaran menghadapi risiko besar apabila membayar pungutan untuk melintasi Selat Hormuz.
Dengan demikian, kesepakatan politik belum otomatis berarti lalu lintas kapal dapat kembali normal.
Data pergerakan kapal memperlihatkan bahwa aktivitas pelayaran masih jauh dari kondisi normal.
Reuters melaporkan hanya 33 kapal yang melintasi Selat Hormuz dari Senin hingga Kamis pekan ini, turun dari 50 kapal pada periode yang sama pekan sebelumnya.
Untuk kapal tanker minyak mentah, hanya enam kapal yang keluar melalui selat tersebut sepanjang pekan hingga Kamis. Sebelum konflik, sekitar 130–140 kapal biasanya melintasi jalur itu setiap pekan.
Situasi tersebut menjadi perhatian serius bagi pasar energi karena ketidakpastian berkepanjangan dapat meningkatkan biaya angkutan, premi asuransi risiko perang, serta mengurangi fleksibilitas perusahaan minyak dalam mengatur pasokan.
Meski harga minyak kembali menguat pada perdagangan terakhir, kinerja sepanjang pekan masih berada di zona merah.
Brent diperkirakan mengalami penurunan lebih dari 8 persen dalam sepekan, sedangkan WTI berpotensi turun lebih dari 7 persen. Artinya, pasar belum sepenuhnya meyakini bahwa gangguan pasokan akan berlangsung dalam jangka panjang.
Pergerakan tersebut menggambarkan tingginya volatilitas pasar minyak.
Setiap sinyal positif mengenai negosiasi dapat mendorong harga turun karena pasar mengantisipasi kembalinya pasokan. Sebaliknya, setiap indikasi bahwa pembukaan Hormuz kembali tertunda langsung memunculkan premi risiko dan mendorong harga naik.
Di tengah tarik-menarik kepentingan tersebut, seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan Washington melihat adanya kemajuan dalam pembicaraan Iran dan Oman.
AS bahkan memperkirakan kesepakatan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz dapat tercapai dalam waktu dekat. Jika lalu lintas komersial dapat dipulihkan tanpa hambatan, Washington disebut siap mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.
Namun, pasar masih menunggu bukti konkret.
Pembukaan Selat Hormuz tidak cukup hanya diumumkan secara politik. Para pelaku industri perlu memastikan kapal benar-benar dapat melintas secara aman, jadwal pelayaran kembali normal, biaya asuransi turun, dan tidak ada ancaman terhadap kapal komersial.
Selat Hormuz tetap menjadi titik paling sensitif dalam krisis energi global. Gangguan terhadap jalur ini tidak hanya memengaruhi minyak mentah, tetapi juga perdagangan gas alam cair dan produk energi lainnya.
Kekhawatiran tersebut semakin besar setelah sejumlah kapal yang melintas di kawasan tersebut dilaporkan mengalami serangan. Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), misalnya, menyatakan 15 kapalnya telah menjadi sasaran serangan sejak konflik dimulai, dengan tiga insiden terjadi dalam sepekan terakhir.
Bagi pasar minyak, persoalannya kini bukan sekadar apakah perang akan berakhir, tetapi seberapa cepat jalur pelayaran dapat kembali berfungsi normal.
Jika kesepakatan Iran-Oman benar-benar menghasilkan pembukaan penuh dan aman, tekanan harga minyak berpotensi mereda. Namun, apabila negosiasi kembali menemui jalan buntu, risiko gangguan pasokan dapat kembali menjadi faktor utama yang mengangkat harga.
Untuk sementara, pasar masih berada dalam posisi menunggu.
Harga minyak bisa kembali turun apabila diplomasi menghasilkan kepastian. Sebaliknya, setiap penundaan pembukaan Hormuz akan membuat risiko geopolitik kembali masuk ke dalam harga minyak dunia.















Komentar