JurnalPatroliNews | Washington – Tekanan ekonomi mulai menjadi persoalan serius bagi pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjelang pemilihan umum paruh waktu (midterm election) November 2026.
Hasil survei Financial Times–Focaldata menunjukkan mayoritas pemilih terdaftar di Amerika Serikat merasa kondisi keuangan mereka memburuk sejak Trump kembali menduduki Gedung Putih pada Januari 2025.
Dalam survei tersebut, 53 persen responden mengatakan kondisi finansial mereka lebih buruk dibandingkan sebelum Trump kembali menjabat. Ketidakpuasan itu bahkan menembus kelompok yang secara politik tidak berafiliasi dengan partai tertentu maupun sebagian pemilih Partai Republik.
Survei dilakukan secara daring pada 7–10 Agustus 2026 terhadap 1.913 pemilih terdaftar, dengan margin of error sekitar ±2,9 poin persentase.
Kekhawatiran pemilih tidak hanya tercermin dari kondisi keuangan pribadi. Hampir dua pertiga responden menilai perekonomian AS bergerak ke arah yang salah.
Sebaliknya, hanya sekitar seperempat responden yang melihat arah perekonomian bergerak ke jalur yang benar. Ketidakpuasan tersebut menjadi tantangan bagi pemerintahan Trump karena isu ekonomi dan biaya hidup diperkirakan menjadi salah satu perhatian utama pemilih menjelang midterm election.
Dalam isu inflasi dan biaya hidup, pemilih juga lebih mempercayai Partai Demokrat dibandingkan Partai Republik. Demokrat turut memperoleh keunggulan dalam isu lapangan kerja dan perekonomian, bidang yang selama ini kerap menjadi kekuatan politik Partai Republik.
Ketidakpuasan semakin terlihat ketika responden diminta menilai kinerja Trump dalam menangani inflasi dan biaya hidup.
Sebanyak 64 persen responden menyatakan tidak puas terhadap kinerja Trump dalam dua persoalan tersebut. Angka ketidakpuasan bahkan mendekati 70 persen di kalangan pemilih independen.
Secara keseluruhan, 55 persen responden tidak menyetujui kinerja Trump sebagai presiden. Lebih mengkhawatirkan bagi Partai Republik, tingkat persetujuan bersih Trump di kalangan pemilih Republik turun delapan poin persentase dibandingkan bulan sebelumnya.
Survei juga memperlihatkan adanya pergeseran preferensi politik menjelang pemilu November.
Ketika ditanya partai mana yang kemungkinan akan mereka pilih, 44 persen responden menyatakan cenderung memilih kandidat Partai Demokrat, sedangkan 39 persen memilih Partai Republik.
Sejumlah jajak pendapat sebelumnya juga menunjukkan Demokrat memiliki peluang untuk merebut kembali kendali DPR AS. Namun, persaingan untuk mengambil alih Senat diperkirakan lebih sulit.
Meskipun Trump sendiri tidak menjadi kandidat dalam pemilu paruh waktu, hasil midterm sering dipandang sebagai cerminan tingkat penerimaan publik terhadap kinerja presiden dan partai yang menguasai pemerintahan.
Survei tersebut muncul di tengah tekanan biaya hidup yang masih dirasakan masyarakat AS.
Menurut data yang dikutip Financial Times, inflasi tahunan berada di 3,4 persen pada Juli 2026, sementara data pemerintah menunjukkan upah riil mengalami penurunan pada bulan yang sama. Sentimen konsumen juga melemah akibat tingginya harga barang.
Situasi tersebut membuat persoalan daya beli menjadi semakin politis. Bagi pemilih, keberhasilan kebijakan ekonomi tidak hanya diukur melalui indikator makroekonomi, tetapi juga dari kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Gedung Putih membantah gambaran bahwa pemerintahan Trump gagal menangani persoalan keterjangkauan hidup.
Juru bicara Gedung Putih Kush Desai mengatakan pemerintah terus menjalankan agenda ekonomi Trump melalui sejumlah kebijakan, termasuk penurunan harga obat, upaya membawa kembali lapangan kerja ke AS dan pemangkasan pajak.
“Pemerintahan Trump terus menjalankan agenda keterjangkauan yang diusung Presiden,” kata Desai.
Pemerintah Trump juga mengklaim telah mencatat kemajuan dalam penanganan kejahatan dan pengamanan perbatasan.
Namun, survei terbaru menunjukkan persoalan biaya hidup tetap menjadi titik lemah pemerintahan Trump di mata banyak pemilih.
Hasil survei Focaldata tersebut memberikan sinyal bahwa ekonomi dan biaya hidup berpotensi menjadi isu penentu dalam pertarungan politik menjelang November.
Dengan 53 persen pemilih mengatakan kondisi finansial mereka memburuk dan 64 persen tidak puas terhadap penanganan inflasi serta biaya hidup, Partai Republik menghadapi tantangan untuk meyakinkan pemilih bahwa kebijakan Trump mampu memperbaiki kondisi ekonomi rumah tangga.
Di sisi lain, keunggulan Demokrat dalam preferensi pemilih belum otomatis menjamin kemenangan. Efektivitas kampanye, tingkat partisipasi pemilih dan perkembangan ekonomi dalam beberapa bulan ke depan masih dapat mengubah peta persaingan.
Yang jelas, hasil survei ini menunjukkan satu persoalan yang sulit diabaikan: bagi banyak pemilih Amerika, kondisi ekonomi yang mereka rasakan sehari-hari kini menjadi ukuran penting dalam menilai kepemimpinan Trump.












Komentar