JurnalPatroliNews | Jakarta — Pengalaman menjadi bagian dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) 2026 diminta tidak berhenti sebagai sebuah kebanggaan seremonial. Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto justru mendorong 76 anggota Paskibraka menjadikan pengalaman tersebut sebagai pijakan awal untuk mengejar cita-cita dan berkontribusi lebih besar bagi bangsa.
Pesan itu disampaikan Agus Subiyanto saat menerima kunjungan silaturahmi 76 Paskibraka 2026 dalam jamuan makan malam di Wisma Yani, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026).
Didampingi Ny. Evi Agus Subiyanto, Panglima TNI memberikan apresiasi atas keberhasilan para anggota Paskibraka menjalankan tugas kenegaraan dalam rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Namun, di balik apresiasi tersebut, Agus menyampaikan pesan agar para generasi muda tidak berhenti pada pencapaian yang telah diraih.
Menurutnya, status sebagai Paskibraka merupakan pengalaman berharga yang semestinya menjadi modal moral sekaligus motivasi untuk menatap perjalanan yang lebih panjang.
“Saya percaya dan yakin kepada adik-adik sekalian. Setelah pulang dari sini, pancangkan cita-cita setinggi langit dan raih cita-cita yang kalian harapkan. Kebanggaan yang kalian miliki jangan terlalu dipegang, karena ini baru awal menuju kesuksesan,” ujar Agus.
Panglima TNI menekankan bahwa keberhasilan mengemban tugas sebagai Paskibraka bukanlah garis akhir. Justru, pengalaman tersebut harus menjadi pemantik semangat untuk terus belajar, mengembangkan kemampuan, dan membangun masa depan.
Pesan tersebut sekaligus mengingatkan para Paskibraka bahwa tantangan generasi muda Indonesia ke depan akan jauh lebih besar. Mereka tidak hanya dituntut memiliki prestasi, tetapi juga kemampuan untuk menjaga integritas dan menunjukkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Agus menilai Indonesia membutuhkan generasi muda yang mampu menjadi bagian dari proses pembangunan nasional.
Karena itu, pengalaman menjalankan tugas sebagai Paskibraka diharapkan dapat membentuk karakter dan rasa tanggung jawab yang terus dibawa dalam kehidupan setelah mereka menyelesaikan tugas kenegaraan.
Dalam kesempatan tersebut, Panglima TNI juga menyoroti pentingnya kualitas sumber daya manusia sebagai salah satu kekuatan utama Indonesia menghadapi masa depan.
Menurutnya, bangsa ini membutuhkan pemuda dan pemudi dengan perpaduan antara kredibilitas, kemampuan, serta nasionalisme.
“Kita masih membutuhkan pemuda-pemudi yang punya kredibilitas, kemampuan, dan nasionalisme yang tinggi untuk membangun negara ini menjadi lebih baik,” katanya.
Pernyataan tersebut menjadi pesan penting bagi 76 Paskibraka yang telah mendapatkan pengalaman langsung dalam menjalankan salah satu tugas kenegaraan yang sarat dengan nilai disiplin, tanggung jawab, dan kecintaan terhadap Tanah Air.
Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak berhenti selama menjalankan tugas sebagai Paskibraka, tetapi terus melekat dalam perjalanan pendidikan, karier, maupun pengabdian mereka di masa mendatang.
Menutup sambutannya, Agus kembali menyampaikan penghargaan kepada seluruh anggota Paskibraka atas keberhasilan menjalankan tugas mengibarkan dan menurunkan Bendera Pusaka.
Ia mengapresiasi dedikasi para putra-putri terbaik tersebut yang telah menjalankan tugas kenegaraan dengan penuh tanggung jawab hingga seluruh rangkaian berlangsung aman dan lancar.
“Sekali lagi saya ucapkan terima kasih dan bangga yang sebesar-besarnya kepada kalian semua yang telah menaikkan dan menurunkan Bendera Pusaka dalam keadaan lancar dan aman,” pungkasnya.
Pertemuan di Wisma Yani tersebut pun bukan sekadar agenda silaturahmi. Di hadapan 76 Paskibraka, Panglima TNI menyampaikan pesan bahwa menjadi bagian dari Paskibraka adalah sebuah kehormatan, tetapi masa depan Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar sebuah pencapaian.
Generasi muda yang telah mendapat kepercayaan mengemban tugas kenegaraan itu diharapkan mampu membawa semangat disiplin, nasionalisme, dan tanggung jawab tersebut ke dalam perjalanan hidup berikutnya—menjadikannya sebagai modal untuk meraih cita-cita sekaligus ikut menentukan arah masa depan Indonesia.














Komentar