JurnalPatroliNews | Balikpapan — Momentum peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia dimanfaatkan untuk memperkuat gerakan penghijauan di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Sebanyak 1.708 pohon dari 19 spesies ditanam di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kolam Retensi Daerah Aliran Sungai (DAS) Sanggai, Kalimantan Timur, Sabtu lalu.
Kegiatan yang diikuti lebih dari 2.300 peserta tersebut merupakan bagian dari program “Merdeka Bersama Alam” yang digelar Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN). PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) bersama SKK Migas Perwakilan Kalimantan Sulawesi (SKK Migas Kalsul) turut ambil bagian dalam kegiatan penghijauan tersebut.
Penanaman pohon itu juga mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai penanaman bibit pohon terbanyak dalam satu waktu di taman kota.
Peserta berasal dari berbagai unsur, mulai dari pemerintah, BUMN, perusahaan swasta, Pramuka hingga masyarakat sekitar. Kolaborasi tersebut menjadi gambaran keterlibatan lintas sektor dalam menjaga kawasan hijau IKN.
Dari ribuan bibit yang ditanam, sejumlah jenis merupakan pohon kayu endemik Kalimantan, seperti ulin, meranti, bangkirai, dan gaharu.
Selain tanaman kayu, berbagai jenis pohon buah juga ditanam. Keberadaan tanaman tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat vegetasi kawasan, tetapi juga menyediakan sumber pakan bagi satwa serta mendukung keberagaman hayati.
Kepala OIKN Basuki Hadimuljono menekankan bahwa penghijauan di Nusantara tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Menurutnya, penanaman pohon harus menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Penanaman pohon di kawasan Nusantara harus menjadi budaya yang melekat secara berkelanjutan, bukan sekadar momentum seremonial kegiatan,” ujar Basuki.
Ia juga mengajak masyarakat menjadikan aktivitas menjaga lingkungan sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari.
“Kami ingin mengajak masyarakat untuk menjadikan kegiatan penanaman pohon sebagai lifestyle atau gaya hidup, bukan hanya memperingati hari-hari besar, tapi karena kita memang butuh,” katanya.
Direktur Utama PHI Muharram Jaya Panguriseng mengatakan keterlibatan perusahaan bersama SKK Migas Kalsul merupakan bagian dari komitmen untuk mendukung pengelolaan lingkungan di Kalimantan.
Menurutnya, sektor hulu migas tidak dapat berjalan sendiri dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Kolaborasi pemerintah, dunia usaha dan masyarakat menjadi bagian penting dalam memastikan program lingkungan memberikan dampak jangka panjang.
“Kolaborasi lintas sektor menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. PHI bersama SKK Migas Kalsul mendukung penghijauan di IKN sebagai bagian dari kontribusi sektor hulu migas dalam menjaga fungsi ekologis kawasan,” ujar Muharram.
Namun, Muharram mengingatkan keberhasilan penghijauan tidak cukup diukur dari jumlah bibit yang ditanam.
Tahap setelah penanaman justru menjadi bagian penting untuk memastikan pohon dapat tumbuh dan memberikan manfaat ekologis secara berkelanjutan.
“Yang tidak kalah penting adalah memastikan pohon-pohon yang ditanam dapat tumbuh dan memberikan manfaat ekologis jangka panjang. Karena itu, pemeliharaan dan keterlibatan berbagai pihak menjadi hal penting,” katanya.
Penghijauan di kawasan DAS Sanggai sejalan dengan konsep Forest City yang dikembangkan di IKN. Konsep tersebut menempatkan hutan dan ekosistem alami sebagai elemen penting dalam pembangunan kota.
Keberadaan vegetasi di kawasan DAS memiliki fungsi ekologis yang lebih luas. Selain membantu menjaga tata air, vegetasi juga mendukung habitat satwa dan mempertahankan keanekaragaman hayati.
Bagi PHI, keterlibatan dalam program “Merdeka Bersama Alam” menjadi bagian dari kontribusi perusahaan dalam mendukung agenda lingkungan di Kalimantan, khususnya kawasan IKN.
Upaya tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pengelolaan lingkungan membutuhkan kesinambungan antara penanaman, pemeliharaan, dan keterlibatan masyarakat.
PHI merupakan bagian dari Subholding Upstream Pertamina yang mengelola kegiatan hulu migas di Regional 3 Kalimantan, meliputi Zona 8, Zona 9, dan Zona 10.
Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, PHI menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta menjalankan berbagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, infrastruktur, dan tanggap bencana.
Melalui kolaborasi bersama SKK Migas dan berbagai pemangku kepentingan, PHI berharap kontribusi sektor hulu migas dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga ekosistem Kalimantan serta mendukung pembangunan IKN yang berkelanjutan.















Komentar