AS Kembali Hantam Iran, Peluncur Roket di Dekat Selat Hormuz Diserang

JurnalPatroliNews | Washington — Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Kali ini, pasukan AS menghantam dua peluncur milik Iran yang berada di Pulau Larak, kawasan strategis di dekat Selat Hormuz.

Serangan tersebut menjadi aksi militer AS pertama terhadap Iran dalam beberapa pekan terakhir dan menandai kembali meningkatnya ketegangan di jalur pelayaran penting dunia itu.

Kapten Angkatan Laut AS Tim Hawkins menyebut pasukan Iran terpantau tengah mempersiapkan peluncuran roket yang dilengkapi ranjau laut ke arah Selat Hormuz.

“Hari ini, pasukan AS menyerang dua peluncur milik Iran di Pulau Larak. Pasukan Garda Revolusi Islam terpantau sedang bersiap meluncurkan roket yang dilengkapi ranjau laut ke arah Selat Hormuz,” ujar Hawkins dalam pesan kepada AFP.

Hingga laporan ini disusun, belum ada informasi yang dapat memastikan tingkat kerusakan akibat serangan tersebut maupun ada tidaknya korban jiwa.

Larak, Titik Strategis di Selat Hormuz

Pulau Larak memiliki posisi strategis karena berada di kawasan Selat Hormuz, jalur laut yang sangat penting bagi perdagangan energi global.

Serangan terhadap fasilitas Iran di wilayah tersebut menunjukkan bahwa perhatian konflik kini kembali tertuju pada keamanan jalur pelayaran. Selat Hormuz sendiri telah menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik Iran dan Amerika Serikat.

Saling ancam antara Washington dan Teheran juga berpotensi mengganggu aktivitas pelayaran komersial dan meningkatkan risiko terhadap kapal yang melintas.

Situasi tersebut menjadi semakin serius karena Iran sebelumnya menegaskan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk memengaruhi akses di Selat Hormuz.

Ancaman Ranjau Laut Jadi Alasan Serangan

Menurut keterangan militer AS, serangan dilakukan setelah terdeteksi persiapan oleh pasukan Garda Revolusi Islam Iran untuk menggunakan roket yang dilengkapi ranjau laut.

Washington menilai persiapan tersebut dapat menjadi ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Dalam konteks konflik yang telah berlangsung lebih dari enam bulan, Selat Hormuz kini bukan hanya menjadi arena politik dan diplomasi, tetapi juga berpotensi menjadi titik benturan militer secara langsung.

Serangan AS terhadap Larak memperlihatkan bahwa Washington tetap siap menggunakan kekuatan militer ketika menilai terdapat ancaman terhadap pasukannya atau kepentingan pelayaran internasional.

Trump Pernah Singgung Selat Hormuz

Ketegangan mengenai status Selat Hormuz sebelumnya juga meningkat setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan pernyataan kontroversial mengenai kawasan tersebut.

Dalam sebuah acara pada pertengahan Agustus, Trump sempat mengatakan bahwa setelah Iran dikalahkan, kawasan tersebut dapat dijadikan wilayah Amerika Serikat. Pernyataan tersebut kemudian dijelaskan sebagai candaan oleh seorang pejabat Gedung Putih.

Namun, pernyataan itu mendapat respons keras dari Teheran.

Wakil Perdana Menteri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan bahwa Selat Hormuz berada dalam kendali Iran.

“Selat Hormuz dari dulu sampai sekarang adalah milik Iran, dan akan tetap menjadi milik Iran. Selat ini akan dibuka, atau ditutup berdasarkan komando Iran,” kata Gharibabadi seperti dikutip AFP.

Serangan Lama dan Babak Baru Konflik

Serangan terbaru di Larak juga menjadi bagian dari rangkaian konflik panjang antara Amerika Serikat dan Iran yang pecah kembali sejak akhir Februari 2026.

Pada awal konflik, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran. Teheran kemudian melakukan serangkaian serangan balasan terhadap kepentingan AS dan sekutunya di kawasan.

Dalam beberapa pekan terakhir, konflik sempat memasuki periode relatif lebih tenang. Namun, serangan di Larak menunjukkan bahwa jeda tersebut belum berarti ketegangan berakhir.

Reuters melaporkan serangan terhadap peluncur Iran di Larak kemudian diikuti respons militer Iran terhadap sasaran AS di Yordania. Perkembangan tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran mengenai eskalasi konflik di kawasan.

Selat Hormuz Kembali Jadi Pusat Perhatian

Bagi dunia internasional, persoalan utama bukan hanya serangan terhadap dua peluncur Iran, tetapi dampaknya terhadap Selat Hormuz.

Jika ketegangan militer meningkat di sekitar jalur tersebut, risiko terhadap pelayaran dan pasokan energi global juga ikut naik. Reuters mencatat harga minyak melonjak lebih dari 2 persen setelah serangan AS di Larak, menunjukkan betapa cepat pasar merespons eskalasi di kawasan tersebut.

Dengan demikian, serangan Larak berpotensi menjadi titik baru dalam konflik yang sebelumnya telah berlangsung berbulan-bulan.

Washington menyebut tindakannya sebagai respons terhadap ancaman yang dianggap segera terjadi, sementara Teheran memiliki rekam jejak menyatakan kemampuan untuk mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah konflik akan kembali memanas, melainkan seberapa jauh respons kedua pihak setelah serangan terbaru tersebut.

Selat Hormuz pun kembali menjadi salah satu titik paling rawan dalam konflik Iran-Amerika Serikat, dengan konsekuensi yang dapat melampaui kawasan Timur Tengah dan merembet ke pasar energi serta perdagangan global.

Komentar