JurnalPatroliNews | Jakarta — Beredar sejumlah video di media sosial yang menampilkan sosok berseragam TNI Angkatan Darat (TNI AD) dalam berbagai skenario kontroversial.
Dalam video tersebut, sosok yang disebut sebagai prajurit TNI seolah-olah menegur anggota DPR RI, membela terdakwa di ruang persidangan, hingga berhadapan dengan pejabat DPRD Provinsi Kalimantan.
Namun, TNI AD memastikan video-video tersebut bukan rekaman kejadian nyata.
Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat (Dispenad) menegaskan konten tersebut merupakan hasil rekayasa menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan tidak memiliki kaitan dengan institusi TNI AD.
Klarifikasi tersebut disampaikan setelah konten serupa beredar dan berpotensi menimbulkan persepsi seolah-olah peristiwa dalam video benar-benar terjadi.
Atribut Seragam Tidak Sesuai
Dispenad menemukan sejumlah indikasi yang menunjukkan bahwa video tersebut telah mengalami manipulasi digital.
Salah satunya terlihat dari ketidaksesuaian atribut dan tanda pengenal yang digunakan pada seragam sosok dalam video.
Selain itu, karakteristik visual juga menunjukkan adanya ciri-ciri konten hasil rekayasa digital.
Yang tidak kalah penting, nama personel yang disebut maupun ditampilkan dalam video tersebut tidak terdaftar sebagai personel TNI Angkatan Darat.
Hal tersebut menjadi salah satu dasar klarifikasi bahwa sosok prajurit dalam video bukan representasi personel TNI AD yang sebenarnya.
Skenario dalam Video Tidak Pernah Terjadi
Dispenad juga menegaskan sejumlah adegan yang ditampilkan dalam video tidak pernah terjadi.
Skenario mengenai prajurit yang secara sepihak menginterupsi sidang DPR RI, masuk ke ruang persidangan untuk membela terdakwa, maupun menegur pejabat DPRD disebut tidak sesuai dengan tugas, kewenangan, dan mekanisme yang berlaku di lingkungan TNI AD.
Dengan demikian, masyarakat diminta tidak menjadikan video tersebut sebagai dokumentasi atau sumber informasi mengenai aktivitas prajurit TNI.
Konten yang menampilkan adegan dramatis tersebut dinilai berpotensi menyesatkan apabila diterima tanpa proses verifikasi.
Berasal dari Kanal “ZONA-AI CHANNEL”
Dispenad mengungkap bahwa video tersebut berasal dari akun atau kanal “ZONA-AI CHANNEL”.
TNI AD menegaskan tidak memiliki keterkaitan dengan akun tersebut.
Institusi TNI AD juga menyatakan tidak pernah memberikan izin maupun bahan kepada kanal tersebut untuk membuat konten yang mengatasnamakan TNI AD.
Karena itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati ketika menemukan video dengan narasi yang mengaitkan institusi militer dengan suatu peristiwa, terutama apabila konten tersebut beredar melalui media sosial tanpa sumber resmi.
Jangan Jadikan Konten AI sebagai Fakta
Dispenad mengimbau masyarakat dan media untuk tidak menjadikan video tersebut sebagai rujukan informasi faktual.
Publik juga diminta tidak ikut menyebarluaskan konten sebelum memastikan sumber dan kebenaran informasinya.
Informasi mengenai TNI AD dapat dikonfirmasi melalui kanal resmi TNI AD maupun Dispenad.
Klarifikasi tersebut menjadi penting karena perkembangan teknologi AI membuat manipulasi visual semakin mudah dilakukan. Sebuah video dapat dibuat menyerupai dokumentasi nyata meskipun adegan, tokoh maupun peristiwa di dalamnya tidak pernah terjadi.
Dalam konteks institusi negara, penyalahgunaan teknologi tersebut dapat menimbulkan persoalan yang lebih serius karena menyangkut reputasi dan kredibilitas lembaga.
Teknologi Jangan Jadi Mesin Disinformasi
TNI AD mengingatkan agar teknologi yang semestinya dapat digunakan sebagai sarana kreativitas tidak berubah menjadi instrumen untuk membangun informasi menyesatkan.
Video yang dibuat dengan AI dapat terlihat meyakinkan bagi masyarakat yang tidak mengetahui konteks sebenarnya.
Karena itu, verifikasi sumber menjadi langkah penting sebelum sebuah konten dipercaya maupun dibagikan.
Dispenad kembali menegaskan bahwa sosok prajurit yang ditampilkan dalam video viral tersebut bukan kejadian nyata dan bukan personel TNI AD.
Masyarakat diminta tidak mudah percaya pada konten yang mengatasnamakan institusi TNI hanya karena tampilannya terlihat menyerupai rekaman dokumenter.
Di era ketika kecerdasan buatan semakin mudah digunakan untuk menciptakan visual realistis, kemampuan publik membedakan informasi faktual dan rekayasa digital menjadi bagian penting dalam memutus rantai penyebaran hoaks.
TNI AD pun meminta setiap informasi terkait institusi tersebut dikonfirmasi melalui sumber resmi agar masyarakat tidak menjadi korban disinformasi berbasis AI.















Komentar