Rupiah Kembali Loyo! Dolar AS Naik ke Rp17.754, Pasar Menanti Data Inflasi

JurnalPatroliNews | Jakarta — Nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan pada awal perdagangan pekan ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah bergerak di level Rp17.754 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (31/8/2026), melemah sekitar 61 poin atau 0,34 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya.

Pergerakan tersebut menunjukkan pasar masih berhati-hati menghadapi sejumlah agenda ekonomi penting yang akan keluar dalam beberapa hari ke depan.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelaku pasar domestik maupun global masih mengambil posisi wait and see, terutama menjelang publikasi data inflasi.

Menurut Ibrahim, data inflasi menjadi salah satu indikator penting bagi bank sentral dalam menentukan arah kebijakan moneter dan suku bunga.

“Data inflasi menjadi indikator krusial bagi bank sentral menentukan arah kebijakan moneter dan suku bunga. Inflasi yang terkendali memberikan ruang pelonggaran kebijakan, sedangkan inflasi tinggi berpotensi menahan suku bunga di level ketat,” kata Ibrahim dalam riset hariannya.

Pasar Menanti Sinyal Kebijakan Moneter

Bagi pasar valuta asing, perkembangan inflasi menjadi salah satu perhatian utama karena berkaitan langsung dengan ekspektasi suku bunga.

Ketika inflasi menunjukkan tekanan yang lebih tinggi, ruang pelonggaran moneter dapat menyempit. Kondisi tersebut berpotensi menjaga daya tarik aset berbasis dolar dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sebaliknya, apabila inflasi lebih terkendali, pasar dapat memperoleh ruang untuk memperkirakan kebijakan moneter yang lebih longgar.

Situasi ini membuat investor cenderung menahan keputusan besar sambil menunggu indikator ekonomi berikutnya.

Impor dan Pasokan Pangan Ikut Membayangi

Ibrahim juga menyoroti perkembangan pasokan dan ketergantungan terhadap barang impor yang dinilai dapat memengaruhi sentimen pasar menjelang publikasi data perdagangan.

Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya barang impor, termasuk komoditas pangan. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap harga di dalam negeri apabila kebutuhan impor masih tinggi.

Karena itu, dinamika nilai tukar tidak hanya berkaitan dengan pasar finansial, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap struktur biaya ekonomi domestik.

Tekanan tersebut menjadi semakin penting untuk diperhatikan ketika pasar sedang menunggu data perdagangan dan perkembangan harga komoditas.

Proyeksi Rupiah Masih Fluktuatif

Sebelum perdagangan dibuka, Ibrahim telah memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah.

Untuk perdagangan Senin, ia memproyeksikan rupiah berada di kisaran Rp17.690 hingga Rp17.750 per dolar AS. Untuk keseluruhan perdagangan pekan, rentangnya diperkirakan lebih lebar, yakni Rp17.600–Rp17.900 per dolar AS.

Pergerakan rupiah di awal perdagangan yang telah mencapai Rp17.754 menunjukkan tekanan pasar sedikit lebih besar dibandingkan kisaran penutupan yang diproyeksikan Ibrahim.

Kondisi tersebut memperlihatkan tingginya sensitivitas rupiah terhadap sentimen global maupun domestik.

Tekanan Eksternal Belum Hilang

Selain menunggu data inflasi, pasar juga masih memperhitungkan faktor eksternal, termasuk arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan perkembangan geopolitik.

Pergerakan dolar AS terhadap mata uang utama memang tidak seluruhnya menguat pada awal perdagangan, tetapi rupiah tetap mengalami tekanan. Sejumlah laporan pasar menyebut sentimen terhadap kebijakan Federal Reserve serta eskalasi geopolitik di Timur Tengah turut menjadi perhatian investor.

Dengan kondisi tersebut, pasar rupiah masih berada dalam fase penuh kehati-hatian.

Bagi pelaku usaha, eksportir, importir dan investor, level Rp17.700-an menjadi perhatian karena perubahan kurs dapat berpengaruh terhadap biaya transaksi dan perencanaan bisnis.

Sementara bagi pemerintah dan otoritas moneter, menjaga stabilitas rupiah menjadi penting agar tekanan nilai tukar tidak merembet terlalu jauh ke harga barang maupun biaya produksi.

Awal pekan ini menjadi ujian baru bagi rupiah. Investor masih menunggu data inflasi dan indikator ekonomi berikutnya sebelum menentukan arah posisi mereka.

Untuk saat ini, satu hal yang terlihat jelas: pasar belum berani mengambil langkah agresif dan masih memilih wait and see, sementara rupiah harus menghadapi perdagangan di tengah tekanan dolar AS.

Komentar