Desil 9-10 Bakal Dilarang Beli Pertalite? Bahlil: Masih Tunggu Validasi Data

JurnalPatroliNews | Jakarta — Pemerintah masih mengkaji rencana pembatasan penyaluran BBM subsidi jenis Pertalite bagi masyarakat yang masuk kategori desil 9 dan 10.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan kebijakan tersebut belum diputuskan karena pemerintah masih memastikan validitas data sosial ekonomi yang menjadi dasar penentuan penerima subsidi.

“Itu masih dikaji. Karena apa? Kami ingin subsidi itu harus tepat sasaran. Nah, salah satu cara untuk membuat tepat sasaran, data kami harus valid,” ujar Bahlil seusai rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Menurut Bahlil, pemerintah tidak ingin kebijakan yang dibuat dengan tujuan memperbaiki penyaluran subsidi justru menimbulkan persoalan baru akibat data penerima yang belum akurat.

Data Menjadi Penentu Pembatasan

Validitas data desil menjadi salah satu persoalan yang kini diperiksa pemerintah sebelum pembatasan Pertalite diterapkan.

Pemerintah ingin memastikan klasifikasi masyarakat berdasarkan kondisi sosial ekonomi benar-benar mencerminkan keadaan penerima di lapangan.

“Jangan sampai harapan kami baik, tetapi ternyata dalam implementasinya, karena datanya tidak valid, membuat sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan kami,” kata Bahlil.

Karena itu, pembatasan terhadap kelompok desil tertentu belum serta-merta diterapkan.

Pemerintah masih melakukan evaluasi agar sistem penyaluran subsidi nantinya tidak salah sasaran.

Desil 9 dan 10 Jadi Sasaran Pembahasan

Rencana pembatasan tersebut sebelumnya telah disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Menurut Purbaya, masyarakat yang masuk desil 10 berpotensi tidak lagi mendapatkan subsidi BBM. Pengendalian tersebut kemudian dapat diperluas dengan membatasi pembelian Pertalite bagi masyarakat yang berada pada desil 9 dan 10.

Masyarakat dalam kelompok tersebut nantinya diarahkan menggunakan BBM nonsubsidi.

Purbaya menyebut kebijakan tersebut berpotensi memberikan penghematan terhadap anggaran subsidi energi.

Pembatasan subsidi BBM disebut berpotensi menghemat sekitar 10 persen dari anggaran subsidi energi, meski implementasinya masih dalam tahap pembahasan.

Subsidi Energi Tembus Rp210 Triliun

Besarnya perhatian pemerintah terhadap subsidi BBM tidak lepas dari nilai anggaran energi yang cukup besar.

Dalam APBN 2026, pemerintah mengalokasikan subsidi energi sekitar Rp210,1 triliun.

Jumlah tersebut setara sekitar 65,87 persen dari total anggaran subsidi yang ditetapkan sebesar Rp318,9 triliun.

Jika digabung dengan kompensasi energi, total dukungan pemerintah untuk ketahanan energi mencapai sekitar Rp381,3 triliun.

Besarnya anggaran tersebut membuat pemerintah terus mencari cara agar subsidi benar-benar dinikmati kelompok masyarakat yang membutuhkan.

Pemerintah Tak Mau Salah Sasaran

Bahlil menegaskan penataan subsidi Pertalite tidak semata-mata bertujuan mengurangi konsumsi subsidi.

Pemerintah ingin memastikan subsidi diberikan kepada kelompok yang memang berhak.

Karena itu, akurasi data menjadi fondasi utama.

Apabila klasifikasi desil tidak menggambarkan kondisi ekonomi yang sebenarnya, pembatasan yang diterapkan berpotensi berdampak kepada masyarakat yang masih membutuhkan subsidi.

Atas dasar itu, pemerintah memilih melakukan pengkajian sebelum menentukan kebijakan final.

Sistem Pertamina Dinilai Siap

Purbaya sebelumnya menyebut pengendalian subsidi BBM dapat dilakukan secara bertahap.

Sistem yang dimiliki PT Pertamina (Persero) dinilai dapat mendukung penerapan mekanisme pembatasan tersebut.

Namun, kesiapan sistem teknologi saja belum cukup.

Pemerintah tetap membutuhkan basis data yang akurat agar mekanisme pembatasan dapat berjalan sesuai tujuan.

Artinya, terdapat dua komponen yang harus berjalan beriringan: sistem distribusi di lapangan dan data penerima subsidi.

Bagaimana Nasib Warga Desil 9-10?

Sampai saat ini, masyarakat yang masuk desil 9 dan 10 belum otomatis kehilangan hak membeli Pertalite.

Status pembatasan masih berupa kebijakan yang sedang dikaji pemerintah.

Bahlil menegaskan pemerintah masih menunggu kepastian mengenai validitas pembagian desil sebelum mengambil keputusan.

Dengan demikian, belum ada kepastian kapan pembatasan tersebut akan diberlakukan maupun bagaimana mekanisme teknisnya.

Pemerintah masih harus memastikan bahwa sistem klasifikasi masyarakat dapat dipertanggungjawabkan dan tidak menimbulkan kesalahan sasaran.

Subsidi Tepat Sasaran Jadi Target Utama

Pemerintah ingin mengubah pola subsidi agar manfaat terbesar diterima masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Selama ini, tantangan utama subsidi energi adalah potensi konsumsi oleh kelompok masyarakat yang secara ekonomi relatif lebih mampu.

Karena itu, pemanfaatan data sosial ekonomi menjadi salah satu instrumen untuk memperbaiki sasaran subsidi.

Namun, pemerintah menyadari kualitas keputusan sangat bergantung pada kualitas data.

Kesalahan data dapat menghasilkan kesalahan kebijakan.

“Data kami harus valid,” kembali ditegaskan Bahlil.

Keputusan Belum Final

Dengan demikian, wacana pembatasan Pertalite untuk masyarakat desil 9-10 belum menjadi keputusan final.

Pemerintah masih melakukan pembahasan serta verifikasi data sebelum menentukan mekanisme yang akan digunakan.

Purbaya menyebut pengendalian subsidi akan dilakukan secara bertahap, sedangkan Bahlil menekankan validitas data sebagai prasyarat utama.

Ke depan, pemerintah harus menjawab sejumlah pertanyaan penting sebelum kebijakan diterapkan: siapa yang masuk kelompok pembatasan, bagaimana proses pengecekan di SPBU, bagaimana mekanisme keberatan jika data tidak sesuai, serta bagaimana memastikan masyarakat yang sebenarnya berhak tidak ikut kehilangan subsidi.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena Pertalite merupakan salah satu jenis BBM yang banyak digunakan masyarakat.

Karena itu, setiap perubahan kebijakan harus dilakukan secara hati-hati agar tujuan efisiensi anggaran tidak menghasilkan persoalan baru bagi masyarakat.

Untuk saat ini, jawaban pemerintah masih sama: Pertalite bagi warga desil 9 dan 10 belum dipastikan dibatasi. Validitas data menjadi kunci sebelum keputusan final diambil.

Komentar