Utang AS Membengkak, Bessent Andalkan Pertumbuhan Ekonomi untuk Keluar dari Tekanan

JurnalPatroliNews | Asheville — Beban utang Amerika Serikat terus menjadi salah satu persoalan fiskal terbesar Washington. Di tengah tekanan tersebut, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memilih strategi pertumbuhan ekonomi sebagai jalan utama untuk mengurangi beban utang pemerintah.

Pernyataan itu disampaikan Bessent ketika membuka pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G20 di Asheville, North Carolina, Senin (31/8/2026).

“Dunia sedang dibanjiri utang, dan satu-satunya cara bagi kita untuk keluar dari situasi ini adalah dengan tumbuh dan keluar dari situasi ini,” kata Bessent, dikutip dari CNBC International.

Pertemuan tersebut memang berlangsung dalam agenda resmi G20 Finance Ministers and Central Bank Governors pada 31 Agustus hingga 1 September 2026.

Bessent menilai pertumbuhan ekonomi menjadi kunci untuk menghadapi persoalan utang, bukan semata-mata mengandalkan kebijakan fiskal yang berorientasi pada penghematan.

Menurutnya, ekonomi AS telah melewati fase stabilisasi dan kini memasuki tahap pemulihan.

Ia menggambarkan kondisi ekonomi Amerika seperti seorang pasien yang baru saja keluar dari kondisi kritis.

“Saya merasa seperti dokter di ruang gawat darurat, dan ekonomi adalah pasiennya. Kami telah menstabilkan pasien, dan sekarang kami berada dalam tahap penyembuhan,” ujar Bessent.

Strategi tersebut sejalan dengan agenda G20 yang sejak awal kepemimpinan AS pada 2026 diarahkan pada kebijakan pro-pertumbuhan, modernisasi regulasi keuangan serta pengurangan hambatan terhadap inovasi dan kegiatan ekonomi.

Optimisme Bessent datang ketika posisi fiskal AS masih menghadapi tekanan besar.

Utang pemerintah AS telah berada di kisaran US$40 triliun, sementara pemerintah diperkirakan menghadapi defisit sekitar US$2 triliun pada tahun fiskal 2026.

Dalam kondisi seperti itu, pertumbuhan ekonomi diharapkan mampu memperbesar basis penerimaan negara dan memperbaiki kapasitas pemerintah dalam membiayai kewajibannya.

Namun, strategi tersebut bukan tanpa tantangan.

Pertumbuhan harus cukup kuat untuk mengimbangi pertumbuhan beban bunga dan kebutuhan pembiayaan yang terus meningkat.

Dengan kata lain, semakin besar utang, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan ekonomi tumbuh pada tingkat yang mampu menjaga keberlanjutan fiskal.

Di tengah kekhawatiran mengenai utang, Bessent juga membela kondisi pasar Treasury AS.

Ia mengatakan imbal hasil Treasury 10 tahun relatif datar sejak Presiden Donald Trump mulai menjabat dan menilai pasar obligasi AS masih memiliki kinerja lebih baik dibandingkan pasar obligasi global lainnya.

“Jika ada masalah di pasar obligasi AS, maka orang-orang akan menjual obligasi AS dan membeli obligasi negara lain. Tetapi kami adalah pasar dengan kinerja terbaik,” katanya.

Pernyataan itu menjadi salah satu argumen Bessent bahwa tingginya utang belum secara otomatis menurunkan kepercayaan pasar terhadap surat utang pemerintah AS.

Namun, perkembangan yield Treasury menunjukkan gambaran yang perlu dicermati.

Data yang dikutip dalam laporan mengenai kondisi pasar menunjukkan imbal hasil Treasury 10 tahun memang telah meningkat sekitar 15 basis poin sejak Januari 2025, sementara Treasury 30 tahun naik sekitar 40 basis poin.

Kenaikan yield berarti pemerintah harus menghadapi potensi biaya pembiayaan yang lebih tinggi ketika menerbitkan utang baru.

Bessent menyebut terdapat sejumlah hambatan struktural yang masih mengganjal pertumbuhan ekonomi Amerika.

Di antaranya adalah regulasi yang terlalu berat, sistem perpajakan yang dinilai kurang efektif, rendahnya investasi serta ketimpangan keterampilan tenaga kerja.

Pemerintahan Trump, menurut Bessent, tengah berusaha membenahi persoalan tersebut agar ekonomi dapat tumbuh lebih cepat.

Langkah tersebut juga konsisten dengan agenda ekonomi yang dibawa Amerika dalam kepemimpinannya di G20.

Departemen Keuangan AS menyebut agenda 2026 mencakup kebijakan pro-pertumbuhan, modernisasi regulasi, penanganan ketidakseimbangan ekonomi global dan upaya meningkatkan transparansi utang.

Di sinilah tantangan strategi Bessent menjadi lebih kompleks.

Pertumbuhan ekonomi memang dapat meningkatkan penerimaan pajak, memperluas basis ekonomi dan memperkuat kemampuan dunia usaha.

Namun, pertumbuhan saja tidak otomatis mengurangi utang apabila pemerintah tetap menjalankan defisit yang besar.

Jika tambahan penerimaan yang muncul dari pertumbuhan kembali digunakan untuk membiayai belanja baru, posisi utang dapat tetap meningkat.

Karena itu, strategi pertumbuhan harus berjalan bersama disiplin fiskal agar hasilnya benar-benar terlihat pada penurunan kebutuhan pembiayaan.

Kenaikan yield Treasury menjadi persoalan penting karena pemerintah AS merupakan penerbit obligasi terbesar dunia.

Ketika yield meningkat, biaya bunga atas penerbitan utang baru juga berpotensi naik.

Hal itu dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah karena semakin banyak anggaran yang digunakan untuk membayar bunga utang.

Dari sudut pandang tersebut, strategi meningkatkan pertumbuhan harus mampu menghasilkan manfaat yang lebih besar daripada tambahan biaya pembiayaan.

Inilah salah satu alasan mengapa pasar memperhatikan kebijakan ekonomi Washington, tidak hanya dari sisi pertumbuhan, tetapi juga dari sisi keberlanjutan fiskalnya.

Bessent menempatkan deregulasi sebagai salah satu instrumen untuk mempercepat perekonomian.

Menurut pemerintah AS, pengurangan regulasi yang dianggap berlebihan dapat mendorong investasi, inovasi dan produktivitas.

Investasi yang lebih besar kemudian diharapkan memperluas kapasitas produksi dan menciptakan lapangan kerja.

Departemen Keuangan AS sebelumnya memang menempatkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sebagai elemen penting dalam menjaga stabilitas keuangan.

Namun, dampak deregulasi terhadap pertumbuhan juga sangat bergantung pada kualitas kebijakan serta kemampuan pemerintah memastikan perubahan aturan tidak menimbulkan risiko baru.

Selain regulasi dan pajak, Bessent menyoroti persoalan kesenjangan keterampilan tenaga kerja.

Persoalan tersebut berkaitan dengan kemampuan ekonomi dalam memenuhi kebutuhan industri yang terus berubah.

Jika dunia usaha tidak menemukan tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai, investasi dan ekspansi perusahaan dapat terhambat.

Karena itu, agenda pertumbuhan ekonomi AS tidak hanya bergantung pada kebijakan makroekonomi, tetapi juga pada kemampuan meningkatkan produktivitas tenaga kerja.

Investasi menjadi salah satu faktor yang dapat memperkuat pertumbuhan dalam jangka menengah dan panjang.

Namun, pemerintah harus memastikan bahwa investasi tersebut menghasilkan peningkatan produktivitas, bukan hanya mendorong aktivitas ekonomi jangka pendek.

Bessent juga menggarisbawahi perlunya memperbaiki iklim usaha agar modal lebih mudah masuk ke sektor-sektor produktif.

Jika investasi meningkat, ekonomi memiliki peluang memperluas basis produksi dan menciptakan sumber penerimaan yang lebih besar bagi negara.

Meskipun Bessent menyebut pasar obligasi AS masih kuat, investor tetap mengawasi perkembangan yield Treasury dan arah kebijakan fiskal Washington.

Naiknya yield jangka panjang menjadi sinyal bahwa pasar tetap menuntut kompensasi yang lebih tinggi untuk memegang surat utang dalam jangka panjang.

Kondisi itu tidak serta-merta berarti terjadi krisis kepercayaan terhadap Treasury.

Namun, pergerakan tersebut menunjukkan bahwa besarnya utang dan prospek defisit tetap menjadi faktor yang diperhitungkan pasar.

Bahkan, Treasury Borrowing Advisory Committee pada Agustus 2026 menyatakan penerbitan surat utang dengan kupon dapat meningkat pada tahun fiskal 2027, meski ukuran lelang saat itu direkomendasikan tetap dipertahankan.

Pemerintah Trump kini menghadapi pekerjaan besar: mendorong pertumbuhan tanpa membuat defisit dan utang semakin sulit dikendalikan.

Pertumbuhan ekonomi akan menjadi ukuran penting apakah strategi Bessent berhasil.

Jika ekonomi tumbuh kuat, produktivitas meningkat dan penerimaan negara naik, pemerintah memperoleh ruang lebih besar untuk mengelola utang.

Sebaliknya, jika pertumbuhan tidak cukup kuat sementara defisit tetap besar dan biaya bunga meningkat, tekanan terhadap fiskal AS dapat semakin berat.

Forum G20 di Asheville menjadi panggung penting bagi Washington untuk menyampaikan pendekatan ekonominya kepada negara-negara ekonomi utama dunia.

Bessent membawa pesan bahwa pertumbuhan adalah jalan keluar dari persoalan utang.

Pandangan tersebut juga sesuai dengan agenda G20 AS pada 2026 yang menitikberatkan kebijakan pro-pertumbuhan dan pengurangan hambatan regulasi.

Tetapi pasar keuangan akan menilai strategi tersebut bukan hanya dari pidato pemerintah.

Ukuran sebenarnya terletak pada pertumbuhan ekonomi, perkembangan defisit, kebutuhan penerbitan utang, serta arah yield Treasury.

Beban utang sekitar US$40 triliun membuat strategi ekonomi pemerintah AS menjadi perhatian global.

Bessent memilih pertumbuhan sebagai senjata utama untuk menghadapi persoalan tersebut.

Namun, pertumbuhan harus disertai produktivitas yang lebih tinggi, investasi yang kuat, efisiensi fiskal serta pengendalian defisit.

Tanpa kombinasi itu, pertumbuhan berisiko hanya menjadi mesin yang memperbesar aktivitas ekonomi tanpa benar-benar mengurangi tekanan utang.

Karena itu, pernyataan Bessent di G20 bukan sekadar narasi optimisme.

Itu adalah taruhan besar pemerintah AS bahwa ekonomi Amerika masih dapat tumbuh cukup cepat untuk mengejar beban utang yang terus membengkak.

Dan untuk sementara, pasar Treasury tetap menjadi salah satu tempat utama dunia menguji apakah taruhan tersebut benar-benar berhasil.

Komentar