JurnalPatroliNews | Sukabumi — Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menyebut Indonesia memiliki peluang besar untuk melompat menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia, bahkan menargetkan posisi nomor empat.
Menurut Sigit, peluang tersebut sangat bergantung pada kemampuan Indonesia memanfaatkan momentum bonus demografi dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), memperkuat karakter generasi muda dan menjaga stabilitas nasional.
Pesan itu disampaikan Sigit saat memberikan arahan dalam Apel Kebangsaan Kemah Nasional Pramuka Persatuan Ummat Islam (PUI) 2026 di Selabintana Camping Ground, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026).
Di hadapan 5.499 peserta apel, Sigit menegaskan bonus demografi merupakan momentum langka yang hanya terjadi satu kali dalam perjalanan suatu negara.
Sigit mengatakan dominasi penduduk usia produktif merupakan modal besar bagi Indonesia untuk meningkatkan kapasitas ekonomi dan pembangunan.
Namun, peluang tersebut harus diimbangi dengan pendidikan, keterampilan dan karakter yang kuat. Tanpa persiapan yang memadai, bonus demografi justru dapat berubah menjadi persoalan baru.
“Momentum tersebut hanya terjadi satu kali di setiap negara. Manakala kita berhasil memanfaatkan momentum tersebut dengan meningkatkan kualitas SDM dan bekerja keras, maka kita yakin Indonesia akan memiliki lompatan untuk menjadi negara nomor empat di dunia. Dan kita harus yakin bahwa kita bisa,” tegas Sigit.
Menurutnya, kualitas generasi produktif akan sangat menentukan apakah bonus demografi menghasilkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi atau justru memunculkan masalah sosial akibat tingginya jumlah angkatan kerja yang tidak terserap.
Sigit menilai peningkatan kualitas manusia harus dimulai melalui akses pendidikan yang lebih luas dan berkualitas.
Berbagai program pemerintah disebut terus dikembangkan, antara lain perluasan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Sekolah Rakyat, sekolah unggulan, sekolah transformasi hingga pendidikan jarak jauh.
Langkah tersebut diarahkan untuk memperluas kesempatan masyarakat memperoleh pendidikan sekaligus meningkatkan kompetensi generasi muda.
Menurut Sigit, pembangunan ekonomi tidak akan berjalan optimal apabila tidak disertai investasi terhadap kualitas manusia.
Institusi kepolisian juga disebut mengambil bagian dalam menyiapkan generasi muda berkualitas.
Sigit mengatakan Polri mendukung pengembangan pendidikan melalui pendirian sekolah berasrama unggulan SMA Kemala Taruna Bhayangkara.
Sekolah tersebut dirancang untuk mendidik generasi muda yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga dipersiapkan memiliki kapasitas kepemimpinan untuk menghadapi tantangan masa depan.
Menurut Sigit, pembangunan SDM harus dilakukan secara bersama-sama oleh berbagai unsur bangsa agar bonus demografi dapat menjadi kekuatan bagi Indonesia.
Dalam konteks tersebut, Sigit memberikan perhatian khusus terhadap Gerakan Pramuka.
Menurutnya, Pramuka memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter generasi muda melalui proses pendidikan nonformal yang menekankan kemandirian, kedisiplinan, gotong royong dan ketahanan mental.
Gerakan Pramuka dinilai dapat menjadi ruang pembentukan karakter sejak dini sehingga generasi muda tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dan rasa kebangsaan.
Bagi Sigit, SDM berkualitas tanpa karakter kuat belum cukup untuk menopang cita-cita Indonesia menjadi negara maju.
Kapolri juga mengingatkan bahwa pencapaian target ekonomi dan pembangunan dapat terganggu apabila stabilitas nasional tidak terjaga.
Keragaman Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, agama dan budaya harus dikelola sebagai kekuatan, bukan menjadi sumber konflik.
Karena itu, ia meminta generasi muda menjaga persatuan dan mengamalkan nilai Pancasila serta Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari.
“Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika tidak boleh hanya berhenti sebatas hafalan, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Kalian semua adalah calon penerus bangsa, harus saling menjaga dan merawat persatuan. Karena hanya dengan persatuan dan kesatuan Indonesia akan menjadi maju,” pesannya.
Dalam kesempatan yang sama, Sigit menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar PUI yang dinilainya konsisten menjaga prinsip Islam wasathiyah atau moderat sekaligus mempertahankan komitmen kebangsaan.
Menurutnya, nilai keagamaan dan kebangsaan dapat berjalan beriringan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ia menilai organisasi kemasyarakatan, termasuk PUI dan Gerakan Pramuka, memiliki peran penting dalam menanamkan nilai persatuan kepada generasi muda.
Sigit juga menyampaikan dukungan terhadap usulan pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada tokoh pendiri PUI.
Dukungan tersebut disebut sebagai bentuk penghargaan terhadap perjuangan, pengabdian dan kontribusi tokoh pendiri organisasi tersebut bagi bangsa dan negara.
“Kami menyampaikan dukungan terhadap usulan pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada tokoh pendiri PUI, sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan, pengabdian, dan kontribusinya bagi bangsa dan negara,” pungkasnya.
Pernyataan Kapolri menempatkan bonus demografi bukan sekadar fenomena kependudukan, tetapi sebagai momentum strategis yang menentukan masa depan Indonesia.
Jumlah penduduk usia produktif yang besar dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dibarengi pendidikan berkualitas, keterampilan, karakter dan lapangan kerja yang memadai.
Sebaliknya, tanpa persiapan, besarnya populasi produktif dapat berubah menjadi beban sosial dan ekonomi.
Karena itu, target Indonesia menjadi kekuatan nomor empat dunia yang disampaikan Sigit harus diikuti kerja panjang dalam membangun manusia, menjaga persatuan dan menciptakan lingkungan yang stabil.
Bagi generasi muda yang hadir dalam Kemah Nasional PUI, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa bonus demografi bukan sekadar angka statistik.
Masa depan Indonesia, kata Sigit, akan sangat ditentukan oleh kemampuan generasi hari ini mengubah jumlah penduduk produktif menjadi kekuatan nyata bagi pembangunan nasional.















Komentar