KSAD Maruli: Kami Bertanggung Jawab, Jembatan Garuda Ternyata Alami Masalah Teknis

JurnalPatroliNews | Jakarta — Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas insiden kerusakan sistem sling Jembatan Gantung Garuda di Pangandaran, Jawa Barat, saat pelaksanaan peresmian.

Maruli juga menegaskan dirinya bertanggung jawab atas kejadian tersebut sebagai Kepala Satuan Tugas (Satgas) Jembatan Garuda yang ditunjuk Presiden.

“Saya selaku Kepala Satgas Jembatan yang ditunjuk oleh Presiden, saya pribadi bersama anggota memohon maaf atas kejadian tersebut. Kami bertanggung jawab,” tegas Maruli kepada wartawan, Jumat, 4 September 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah tim menyelesaikan investigasi teknis terhadap jembatan yang mengalami kerusakan pada sistem sling.

Hasil pemeriksaan menunjukkan kerusakan tidak berdiri sendiri. Sejumlah persoalan teknis pada komponen struktur ditemukan, sementara kondisi kelebihan beban atau overload pada saat kejadian ikut menjadi faktor yang memengaruhi kinerja jembatan.

Investigasi dilakukan terhadap berbagai komponen sistem jembatan.

Tim menemukan pengait block anchor mengalami patah, disertai persoalan pada konfigurasi dan posisi block anchor terhadap pylon.

Pemeriksaan juga menemukan kondisi yang perlu dievaluasi pada sistem roller dan turnbuckle, konfigurasi sling bagian bawah, serta adanya perbedaan elevasi pada pylon.

Berbagai temuan tersebut kemudian dikaji untuk mengetahui bagaimana sistem jembatan bekerja ketika menerima beban pada saat kejadian.

Dengan demikian, hasil investigasi menunjukkan adanya kombinasi persoalan teknis yang perlu diperbaiki dan dievaluasi secara menyeluruh.

Selain persoalan teknis, faktor pembebanan menjadi bagian penting dalam hasil investigasi.

Saat insiden berlangsung, sekitar 50 orang berada di atas jembatan secara bersamaan.

Kondisi tersebut disebut menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kinerja struktur karena berkaitan langsung dengan beban yang diterima jembatan.

Temuan ini sekaligus menggarisbawahi pentingnya kepatuhan terhadap batas kapasitas ketika sebuah jembatan perintis digunakan.

Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen TNI Donny Pramono menjelaskan bahwa Jembatan Gantung Garuda merupakan jembatan perintis yang dibangun sebagai solusi akses bagi wilayah yang memiliki tantangan geografis.

Karakteristik tersebut berbeda dengan jembatan beton yang memiliki desain dan karakteristik struktur berbeda.

“Jembatan perintis dirancang sebagai solusi akses wilayah terisolir, bukan jembatan beton. Kapasitasnya terbatas dan petunjuk batas maksimal pengguna sebenarnya sudah terpasang di lokasi,” ujar Donny.

Karena memiliki kapasitas tertentu, jumlah orang yang berada di atas jembatan harus disesuaikan dengan batas penggunaan yang ditetapkan.

Beban yang diterima struktur harus diperhitungkan agar sistem jembatan dapat bekerja sesuai desainnya.

Dalam keterangannya, TNI AD juga menegaskan bahwa langkah peningkatan keselamatan telah dilakukan terhadap sistem sling jembatan perintis yang dibangun.

Penguatan sling disebut telah dilakukan dengan peningkatan kemampuan sekitar 20 hingga 30 persen.

Namun, peningkatan kekuatan tersebut tetap tidak berarti jembatan dapat digunakan tanpa memperhatikan kapasitas dan ketentuan keselamatan yang berlaku.

Artinya, penguatan komponen harus tetap diiringi dengan penggunaan yang sesuai dengan batas kemampuan struktur.

Hasil investigasi tidak diarahkan untuk mencari pihak yang harus dipersalahkan.

Sebaliknya, kejadian tersebut akan dijadikan bahan evaluasi agar persoalan serupa tidak terulang pada pembangunan jembatan berikutnya.

TNI AD menilai setiap komponen, konfigurasi struktur dan ketentuan penggunaan harus dipahami secara utuh sebelum sebuah jembatan dinyatakan layak digunakan.

Permintaan maaf Maruli juga menjadi penegasan bahwa TNI AD mengambil tanggung jawab terhadap proses evaluasi dan perbaikan setelah insiden tersebut.

Sebagai tindak lanjut hasil investigasi, TNI AD memastikan perbaikan dan penyempurnaan total akan dilakukan terhadap bagian-bagian struktur yang dinilai perlu mendapat penanganan.

Evaluasi tidak hanya menyasar komponen yang mengalami kerusakan, tetapi juga mencakup konfigurasi struktur, keseimbangan, distribusi beban serta aspek keselamatan penggunaan.

Jembatan Garuda tidak akan langsung difungsikan kembali sebelum proses pemeriksaan dan pengujian teknis dilakukan.

Tahapan tersebut menjadi penting untuk memastikan seluruh sistem jembatan berada dalam kondisi aman dan memenuhi persyaratan kelayakan sebelum digunakan masyarakat.

Bagi TNI AD, pembangunan Jembatan Garuda sejak awal ditujukan untuk membantu mobilitas masyarakat.

Karena itu, insiden yang terjadi menjadi evaluasi penting agar tujuan pembangunan infrastruktur tersebut tetap sejalan dengan faktor keselamatan.

Hasil investigasi kini menjadi dasar untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh sekaligus memperkuat standar pembangunan jembatan perintis lainnya.

Permintaan maaf KSAD Maruli dan komitmen perbaikan total menjadi langkah awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh temuan teknis benar-benar ditindaklanjuti sebelum Jembatan Gantung Garuda kembali dibuka.

Dengan demikian, masyarakat bukan hanya mendapatkan akses transportasi yang lebih mudah, tetapi juga jaminan bahwa infrastruktur tersebut dapat digunakan secara aman dan sesuai kapasitasnya.

Komentar