JurnalPatroliNews | Jakarta — Misteri kerusakan sistem sling Jembatan Gantung Garuda di Pangandaran, Jawa Barat, saat pelaksanaan peresmian akhirnya terjawab. TNI Angkatan Darat memastikan investigasi teknis terhadap jembatan tersebut telah rampung dan menemukan sejumlah faktor yang secara bersama-sama memengaruhi kinerja struktur.
Salah satu temuan penting adalah kondisi pembebanan yang melebihi kapasitas penggunaan jembatan.
Dalam pemeriksaan saat kejadian, sekitar 50 orang berada di atas jembatan secara bersamaan. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang berdasarkan hasil analisis turut memengaruhi kinerja struktur jembatan.
Meski demikian, TNI AD tidak menyimpulkan kerusakan tersebut semata-mata disebabkan satu faktor.
Hasil investigasi justru menemukan beberapa kondisi teknis pada komponen dan konfigurasi sistem jembatan yang perlu mendapat perhatian.
Anchor hingga Konfigurasi Sling Diperiksa
Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh terhadap berbagai bagian konstruksi dan sistem pendukung Jembatan Garuda.
Tim investigasi menemukan, antara lain, pengait block anchor yang mengalami patah, konfigurasi serta posisi block anchor terhadap pylon, kondisi sistem roller dan turnbuckle, konfigurasi sling bawah, hingga perbedaan elevasi pada pylon.
Seluruh kondisi tersebut kemudian dianalisis dalam kaitannya dengan cara kerja struktur ketika menerima beban.
Menurut TNI AD, faktor teknis tersebut tidak berdiri sendiri. Beban yang diterima jembatan pada saat kejadian turut menjadi bagian penting dalam evaluasi karena berkaitan langsung dengan kapasitas struktur.
Temuan ini menjadi dasar bagi TNI AD untuk melakukan penyempurnaan terhadap sistem jembatan sebelum kembali dimanfaatkan masyarakat.
Kasad Sampaikan Permintaan Maaf
Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak selaku Kepala Satgas Jembatan Garuda sebelumnya telah menyampaikan permintaan maaf atas kejadian tersebut.
Maruli juga menegaskan tanggung jawabnya sebagai pimpinan satuan tugas pembangunan jembatan.
“Saya selaku Kepala Satgas jembatan yang ditunjuk oleh Presiden, saya pribadi bersama anggota memohon maaf atas kejadian tersebut. Kami bertanggung jawab atas kejadian tersebut,” ujar Maruli di hadapan awak media.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa TNI AD tidak menghindari tanggung jawab atas evaluasi maupun tindak lanjut terhadap kondisi jembatan.
Jembatan Perintis Memiliki Batas Kapasitas
Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen TNI Donny Pramono menjelaskan bahwa Jembatan Gantung Garuda merupakan jembatan perintis yang dibangun untuk membantu membuka akses masyarakat, khususnya di wilayah dengan kondisi geografis yang menyulitkan pembangunan jembatan beton.
Karena berstatus jembatan perintis, terdapat batas kemampuan struktur yang harus diperhatikan dalam penggunaannya.
“Jembatan perintis memiliki batas kemampuan atau kapasitas tertentu. Karena itu, aspek pembebanan menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam penggunaannya,” jelas Donny, Jumat (4/9/2026).
Menurut dia, ketentuan mengenai jumlah orang yang diperbolehkan berada di atas jembatan juga telah dicantumkan sebagai bagian dari aspek keselamatan.
Persoalan pembebanan menjadi penting karena kapasitas sebuah jembatan tidak hanya bergantung pada kekuatan material, tetapi juga pada konfigurasi sistem, distribusi beban, keseimbangan struktur serta pola penggunaannya.
Sling Telah Di-upgrade
TNI AD juga menjelaskan bahwa langkah peningkatan keselamatan sebenarnya telah dilakukan pada jembatan-jembatan perintis yang dibangun.
Sistem sling disebut telah mendapatkan peningkatan kekuatan sekitar 20 hingga 30 persen.
Namun, peningkatan tersebut tidak menghilangkan kebutuhan untuk menggunakan jembatan sesuai batas kapasitas yang telah ditetapkan.
Artinya, kemampuan struktur tetap harus dipertimbangkan dengan kondisi penggunaan di lapangan.
“Pada jembatan tersebut juga telah dicantumkan ketentuan mengenai batas jumlah orang yang dapat berada di atas jembatan,” kata Donny.
Tak Ingin Saling Menyalahkan
TNI AD menyatakan hasil investigasi tidak dimaksudkan untuk mencari pihak yang harus disalahkan.
Sebaliknya, kejadian tersebut dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki standar pembangunan maupun penggunaan jembatan perintis ke depan.
“Kami tidak ingin menyalahkan siapa pun. Kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi kami untuk memastikan seluruh aspek teknis dan ketentuan penggunaan benar-benar dipahami dan dipatuhi,” lanjut Donny.
Pendekatan tersebut menempatkan keselamatan pengguna sebagai prioritas utama sekaligus menjadi bahan evaluasi terhadap proyek jembatan perintis lainnya.
Jembatan Belum Langsung Dibuka
Sebagai tindak lanjut, TNI AD akan melakukan penanganan dan penyempurnaan menyeluruh terhadap bagian-bagian yang berkaitan dengan sistem struktur jembatan.
Evaluasi akan mencakup konfigurasi, keseimbangan, distribusi beban, serta penerapan ketentuan keselamatan.
Sebelum kembali dibuka untuk masyarakat, Jembatan Garuda akan menjalani pemeriksaan dan pengujian teknis sesuai kebutuhan.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan jembatan benar-benar layak dan aman digunakan.
TNI AD menyadari pembangunan Jembatan Garuda bertujuan memberikan manfaat bagi masyarakat serta mempermudah mobilitas di wilayah Pangandaran.
Karena itu, hasil investigasi tidak hanya menjadi jawaban atas insiden yang terjadi saat peresmian, tetapi juga menjadi dasar untuk memperkuat standar pembangunan dan pengawasan jembatan serupa di masa mendatang.
Dengan temuan sejumlah persoalan teknis sekaligus faktor pembebanan, peristiwa Jembatan Garuda menjadi pengingat bahwa kualitas konstruksi harus selalu diikuti dengan penggunaan sesuai kapasitas.
TNI AD memastikan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas sebelum jembatan tersebut kembali difungsikan.















Komentar