JurnalPatroliNews | New Delhi — Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi mendorong negara anggota dan mitra BRICS memperkuat kerja sama ekonomi untuk menghadapi perubahan serta berbagai tekanan yang terus membayangi perekonomian global.
Seruan tersebut disampaikan Sisi dalam sesi terbuka KTT ke-18 BRICS di New Delhi, India, Minggu (13/9/2026).
Menurut Sisi, ketahanan ekonomi tidak cukup dibangun melalui kekuatan domestik masing-masing negara. Diperlukan pula diversifikasi sumber pertumbuhan, penguatan rantai pasok, investasi sumber daya manusia dan teknologi, serta peningkatan kerja sama antarnegeri Global Selatan.
Ketahanan Pangan dan Energi Jadi Kunci
Sisi menilai ketahanan ekonomi berkaitan erat dengan kemampuan suatu negara menjaga pasokan pangan dan energi.
Kelancaran perdagangan dan investasi juga harus dipastikan, terutama di tengah potensi gangguan terhadap rantai pasok global.
“Ketahanan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari kemampuan kita memastikan ketahanan pangan dan energi, menjaga kelancaran arus perdagangan dan investasi, serta mengatasi gangguan rantai pasok,” kata Sisi dilansir dari Reuters.
Karena itu, ia mendorong negara-negara BRICS memperkuat koordinasi agar guncangan ekonomi dari luar tidak mudah memengaruhi stabilitas masing-masing negara.
AI dan Teknologi Diminta Lebih Terbuka
Selain sektor perdagangan dan energi, Sisi menyoroti pentingnya kerja sama dalam bidang inovasi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurut dia, perkembangan teknologi harus memberikan manfaat yang lebih luas bagi negara berkembang.
Salah satu langkah yang dinilai penting adalah memperluas transfer dan lokalisasi teknologi sehingga negara-negara berkembang tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu membangun kapasitas teknologi di dalam negeri.
Kolaborasi di bidang inovasi, riset, pengembangan sumber daya manusia, dan teknologi dinilai dapat menjadi salah satu fondasi baru bagi pertumbuhan ekonomi negara-negara Global Selatan.
Mesir Dorong Energi Bersih
Di sektor energi, Sisi menyerukan peningkatan kerja sama dalam pengembangan energi bersih dan terbarukan.
Ia juga mendorong efisiensi penggunaan sumber daya sekaligus memperluas akses negara berkembang terhadap teknologi dan pembiayaan yang dibutuhkan untuk melakukan transisi energi.
Menurutnya, kerja sama tersebut penting agar agenda pembangunan berkelanjutan tidak justru menambah kesenjangan antara negara maju dan negara berkembang.
Terusan Suez Tetap Strategis
Sisi juga memaparkan upaya Mesir memperkuat infrastruktur perdagangan dan logistik.
Mesir, kata dia, terus berinvestasi dalam pengembangan pelabuhan, koridor transportasi, serta jaringan logistik.
Dalam konteks tersebut, Terusan Suez tetap memiliki posisi strategis sebagai salah satu jalur utama perdagangan internasional.
Penguatan konektivitas tersebut dinilai dapat mendukung kelancaran arus barang sekaligus meningkatkan posisi Mesir dalam jaringan perdagangan global.
BRICS Diminta Perluas Perdagangan dan Investasi
Untuk memperkuat integrasi ekonomi, Sisi mendorong peningkatan perdagangan dan investasi di antara negara anggota maupun mitra BRICS.
Ia juga mengusulkan pengembangan proyek bersama yang dapat memperkuat keterhubungan ekonomi dan mengurangi dampak guncangan eksternal.
Menurut Sisi, kolaborasi semacam itu akan membuat negara-negara anggota lebih mampu menghadapi perubahan ekonomi global secara bersama-sama.
Kerja sama tidak hanya diarahkan pada perdagangan barang, tetapi juga investasi, infrastruktur, teknologi, energi, dan berbagai sektor strategis lainnya.
NDB Didorong Perkuat Pembiayaan Negara Berkembang
Sisi turut menyoroti peran Bank Pembangunan Baru (New Development Bank/NDB) sebagai salah satu instrumen penting dalam memperkuat pembangunan negara berkembang.
Menurutnya, NDB perlu terus diperkuat agar mampu mendukung pembiayaan proyek infrastruktur dan pembangunan dengan cakupan yang lebih luas.
Akses negara berkembang terhadap pembiayaan dengan persyaratan lunak juga dinilai perlu diperbesar.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu negara-negara Global Selatan membiayai proyek strategis tanpa terlalu bergantung pada sumber pembiayaan tradisional.
BRICS Dinilai Punya Modal Besar
Sisi menilai keberagaman negara anggota dan mitra BRICS justru dapat menjadi kekuatan dalam membangun model kerja sama baru.
Keragaman ekonomi, sumber daya, teknologi, dan posisi geografis negara-negara BRICS dinilai membuka peluang untuk membentuk pola kerja sama yang lebih praktis dan saling menguntungkan.
Model tersebut, kata Sisi, perlu bertumpu pada ketahanan, inovasi, kerja sama, serta keberlanjutan.
Pernyataan Sisi disampaikan pada hari terakhir KTT ke-18 BRICS yang berlangsung selama dua hari di New Delhi.
BRICS kini beranggotakan 11 negara, yakni Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Indonesia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Dengan semakin luasnya keanggotaan, BRICS dinilai memiliki ruang yang semakin besar untuk mendorong agenda ekonomi negara-negara Global Selatan, termasuk melalui penguatan perdagangan, investasi, teknologi, energi, infrastruktur, dan pembiayaan pembangunan.












Komentar