Mayat Pria Ditemukan di Enggano, Polisi: Properti Tak Cocok dengan Wartawan Hilang

JurnalPatroliNews | Banten — Misteri hilangnya lima wartawan dan tiga kru speedboat yang kehilangan kontak di kawasan Selat Sunda belum menemukan titik terang. Namun, polisi memastikan sesosok mayat pria tanpa identitas yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, tidak menunjukkan kesesuaian dengan ciri properti para korban yang masih dalam pencarian.

Meski demikian, kepastian mengenai identitas jenazah belum dapat diberikan. Polda Banten masih menunggu hasil pemeriksaan DNA dengan sampel keluarga korban.

Dokter Forensik RS Bhayangkara Polda Banten, dr. Donald Rinaldi Kusumaningrat, mengatakan proses pencocokan sampel DNA dilakukan untuk memastikan apakah jenazah yang ditemukan tersebut memiliki hubungan biologis dengan salah satu korban yang hilang.

“Iya, secara properti tidak sesuai. Hari ini DNA dibawa ke Lab DNA di Biro Dokpol,” ujar Donald melalui pesan WhatsApp, Selasa (15/9/2026).

Menurut dia, proses pemeriksaan diperkirakan membutuhkan waktu hingga sekitar dua pekan.

“Bisa dua minggu. Jadi, sampel dari temu mayat di Bengkulu dicocokkan dengan keluarga dari korban,” katanya.

Polisi Belum Mau Berspekulasi

Keterangan mengenai ketidaksesuaian ciri menjadi temuan awal dalam proses identifikasi. Namun polisi tetap berhati-hati dan tidak menjadikan pemeriksaan visual maupun properti sebagai dasar final untuk memastikan identitas.

Kabid Humas Polda Banten Maruli Arciles Hutapea sebelumnya juga menyatakan pihaknya masih menunggu hasil pencocokan DNA yang dilakukan terhadap sampel keluarga para korban.

“Kita menunggu pencocokan DNA yang sudah diambil dari keluarga teman-teman yang hilang kontak. Kita akan melakukan pencocokan,” ujar Maruli.

Ia meminta publik memberi waktu kepada tim untuk menyelesaikan proses identifikasi hingga hasil pemeriksaan laboratorium diterima.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa polisi tidak ingin menarik kesimpulan hanya berdasarkan ciri fisik jenazah yang kondisinya telah mengalami kerusakan.

Ciri Jenazah yang Ditemukan

Polda Banten mengungkap sejumlah informasi awal mengenai mayat tanpa identitas tersebut.

Jenazah diketahui berjenis kelamin laki-laki dengan tinggi badan sekitar 165 sentimeter. Polisi memperkirakan korban berusia di atas 50 tahun.

Kondisi wajah disebut telah mengalami kerusakan sehingga identifikasi secara visual menjadi semakin sulit.

“Kami ingin menyampaikan bahwa hasil koordinasi dengan Polda Bengkulu, jenis kelamin mayat yang ditemukan di Pulau Enggano itu berjenis kelamin laki-laki, tinggi lebih kurang 165 cm. Kemudian, muka sedikit hancur, kulit biasa, umur diperkirakan di atas 50 tahun,” kata Maruli.

Karakteristik tersebut menjadi salah satu bahan pembanding awal, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa jenazah bukan bagian dari kelompok korban yang tengah dicari.

Ditemukan di Pesisir Pulau Enggano

Mayat tersebut ditemukan di kawasan pesisir Desa Kahyapu, Pulau Enggano, Bengkulu.

Temuan itu kemudian dilaporkan kepada Kantor Pencarian dan Pertolongan atau Basarnas Bengkulu pada Sabtu (12/9/2026) sore.

Lokasi penemuan menjadi perhatian karena sebelumnya tim pencarian juga terus bekerja untuk menemukan lima wartawan dan tiga kru speedboat yang hilang kontak ketika melakukan peliputan Gunung Anak Krakatau.

Meski lokasinya berada di wilayah berbeda, polisi tetap melakukan koordinasi untuk memastikan setiap penemuan jenazah di kawasan sekitar dapat diperiksa dan dibandingkan dengan data orang hilang.

Lima Wartawan Masih Dicari

Lima jurnalis yang hingga kini masih dalam pencarian masing-masing M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal, seorang jurnalis lepas.

Mereka dilaporkan kehilangan kontak ketika berada dalam perjalanan peliputan di kawasan Selat Sunda.

Selain lima wartawan tersebut, terdapat tiga kru speedboat yang juga dinyatakan hilang.

Mereka adalah Warta, 55 tahun, yang berperan sebagai kapten; Surakman, 60 tahun, sebagai anak buah kapal; serta Heriyanto, 49 tahun, yang berperan sebagai pemandu wisata.

Kedelapan orang tersebut masih menjadi fokus operasi pencarian dan identifikasi.

DNA Jadi Penentu

Dalam kasus jenazah tanpa identitas, pemeriksaan DNA memiliki arti penting karena dapat memberikan kepastian yang lebih kuat dibandingkan pencocokan berdasarkan penampilan fisik maupun barang yang ditemukan.

Sampel DNA dari jenazah akan dibandingkan dengan sampel biologis keluarga korban untuk mencari kecocokan.

Proses tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua minggu.

Karena itu, polisi meminta publik menunggu hasil laboratorium sebelum menarik kesimpulan terkait identitas jenazah yang ditemukan di Enggano.

Harapan Keluarga Masih Bergantung pada Pencarian

Temuan mayat di Pulau Enggano sempat menimbulkan kekhawatiran karena terjadi ketika operasi pencarian delapan orang yang hilang masih berlangsung.

Namun hasil pemeriksaan awal mengenai ciri properti memberikan indikasi bahwa jenazah tersebut tidak memiliki persesuaian dengan para korban.

Meski begitu, pintu kepastian belum sepenuhnya tertutup sebelum hasil DNA keluar.

Di sisi lain, proses pencarian terhadap lima wartawan dan tiga kru speedboat tetap menjadi perhatian utama.

Polisi dan tim pencarian masih harus menjawab pertanyaan mengenai keberadaan kedelapan orang tersebut, termasuk kondisi mereka dan lokasi terakhir yang dapat ditelusuri.

Untuk saat ini, satu hal yang sudah dipastikan adalah mayat pria yang ditemukan di Pulau Enggano belum dapat diidentifikasi sebagai salah satu dari delapan orang yang hilang.

Hasil pemeriksaan DNA menjadi tahap berikutnya yang akan menentukan jawaban secara ilmiah.

Publik dan keluarga korban kini menunggu hasil tersebut, sementara operasi pencarian terhadap para wartawan dan kru speedboat yang belum ditemukan terus menjadi prioritas.

Komentar