JurnalPatroliNews | Jakarta — Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyoroti tindakan seorang pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang mengolok-olok siswa korban dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Gibran menilai pernyataan tersebut tidak sejalan dengan semangat perlindungan anak maupun nilai pelayanan dalam program MBG.
Melalui akun Instagram resminya, Gibran menyampaikan bahwa ruang publik semestinya dijaga agar tetap aman dan ramah, terutama bagi anak-anak yang sedang menghadapi kondisi sulit.
“Perkataan oknum SPPG ini sangat disayangkan. Mari kita bersama menjaga ruang publik yang aman dan ramah bagi semua. Jangan sampai anak-anak justru menjadi korban perundungan,” kata Gibran.
Siswa Korban Keracunan Disebut Sudah Kembali ke Rumah
Dalam pernyataannya, Gibran juga menyampaikan perkembangan kondisi dua siswa yang sebelumnya menjadi korban dalam kasus keracunan MBG di Kabupaten Karo.
Ia menyebut Agnesia dan Febiola telah kembali ke rumah masing-masing dan akan kembali mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
“Saat ini Agnesia dan Febiola telah kembali ke rumah masing-masing di Kabupaten Karo dan akan masuk sekolah kembali,” ujar Gibran.
Gibran sebelumnya juga telah bertemu dengan siswa yang mengalami keracunan tersebut.
Selain memberikan bantuan, Wakil Presiden menyatakan turut mengawal kebutuhan biaya pengobatan hingga proses penanganannya selesai.
Pegawai SPPG di Bantul Diberhentikan
Respons Gibran tersebut muncul setelah Badan Gizi Nasional (BGN) Regional DIY mengambil tindakan terhadap pegawai SPPG di wilayah Muntuk, Kemantren Dlingo, Kabupaten Bantul.
Pegawai yang disebut menjabat sebagai pengawas keuangan tersebut diberhentikan setelah pernyataannya mengenai siswa korban keracunan MBG di Karo mendapat sorotan.
Koordinator Regional BGN DIY Wirandita Gagat Widyatmoko mengatakan keputusan tersebut diambil setelah pihaknya melakukan penanganan sesuai ketentuan.
“Kami menyayangkan adanya pernyataan tersebut. Setelah dilakukan penanganan sesuai ketentuan, yang bersangkutan telah diberhentikan,” kata Gagat dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Senin (21/9/2026).
Menurut Gagat, keputusan itu sekaligus menjadi pengingat bagi seluruh jajaran yang terlibat dalam pelaksanaan Program MBG.
BGN Tekankan Etika dan Empati
BGN menegaskan bahwa pelaksanaan Program MBG tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis dalam menjalankan pelayanan pemenuhan gizi.
Aspek etika, empati, sensitivitas serta tanggung jawab dalam berkomunikasi juga dinilai menjadi bagian penting dari pekerjaan setiap personel yang terlibat.
“Ini menjadi pelajaran bagi seluruh jajaran bahwa bekerja dalam Program MBG tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memiliki etika, empati, sensitivitas, dan tanggung jawab dalam berkomunikasi,” ujar Gagat.
Menurut BGN Regional DIY, tindakan administratif tersebut dilakukan untuk menjaga standar perilaku, etika, dan profesionalitas seluruh jajaran dalam penyelenggaraan MBG.
Gibran: Anak Jangan Jadi Korban Perundungan
Sorotan terhadap tindakan pegawai SPPG tersebut tidak terlepas dari kondisi siswa yang sebelumnya mengalami dugaan keracunan setelah menerima makanan dalam program MBG di Karo.
Bagi Gibran, kondisi anak-anak yang sedang menjalani pemulihan seharusnya mendapat perhatian dan dukungan, bukan menjadi sasaran olok-olok.
Pernyataan tersebut sekaligus menempatkan aspek perlindungan anak sebagai bagian dari perhatian dalam pelaksanaan program pemerintah.
Gibran sebelumnya juga menyatakan telah bertemu dengan korban dan memastikan kebutuhan pengobatan mendapat pendampingan.
Standar Perilaku Jadi Perhatian
Kasus tersebut kini tidak hanya menjadi persoalan mengenai pernyataan seorang pegawai, tetapi juga menjadi evaluasi terhadap standar komunikasi para pelaksana Program MBG.
BGN Regional DIY menegaskan setiap personel yang terlibat dalam program tersebut harus memahami tanggung jawabnya, baik dalam menjalankan tugas teknis maupun ketika berinteraksi dengan masyarakat.
Pemberhentian pegawai SPPG di Bantul menjadi langkah administratif yang diambil BGN setelah pernyataan yang bersangkutan dinilai tidak sesuai dengan standar etika yang ditetapkan.
Sementara itu, Gibran meminta agar ruang publik tetap menjadi tempat yang aman bagi semua pihak, khususnya anak-anak yang berada dalam situasi rentan.
Kasus ini sekaligus memperlihatkan bahwa keberhasilan Program MBG tidak hanya berkaitan dengan distribusi makanan dan pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga menyangkut cara seluruh jajaran memperlakukan penerima manfaat dengan empati dan tanggung jawab.















Komentar